M U K A D D I M A H

M U K A D D I M A H : Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan Barang siapa yang Dia sesatkan , maka tak seorangpun yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang berhak diibadahi melainkan Allah semata, yang tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusannya.

Rabu, 25 Agustus 2010

ISLAM MELARANG UMATNYA BERBUAT GHULUW (MELAMPAUI BATAS)


O l e h : Abu Farabi al-Banjar


Di dinding sebuah rumah makan penulis melihat terpampang foto/gambar berkuran besar seorang ulama terkenal yang disebut-sebut sebagai wali di Kalimantan Selatan yang sudah almarhun dengan mengenakan surban di kepala. Foto tersebut pada bingkainya digantungkan rangkaian bunga segar dan bunga tersebut sepertinya selalu diganti setiap hari. Pemberian bunga segar pada foto tersebut merupakan salah satu fenomena dari sekian banyak bentuk penghormatan dan malah menjurus kepada pengkultusan sebagian masyarakat muslim yang dilakukan kepada mendiang ulama besar di Kalimantan Selatan tersebut. Dan selain dari itu banyak sekali cerita cerita yang beredar tentang keistimewaan sang ulama tersebut yang menggambarkan kekaramatannya, dan malah sepertinya isi cerita dari mulut kemulut tersebut banyak yang dilebih-lebihkan dan dibuat-buat. Semuanya itu dilakukan tidak lain sebagai bentuk penggambaran akan kecintaan dan pengagungan kepada sang ulama.

Selain dari itu di sebagian kalangan masyarakat muslim di negeri kita ini juga dikenal apa yang dinamakan manaqib ulama besar Syaikh Abdul Qadir Jailani yang oleh pencintanya sering diamalkan membacanya dalam berbagai kesempatan acara-acara. Padahal kalau disimak dengan menterjemahkan manaqib atau riwayat tersebut maka di dalamnya oleh pengarangnya banyak sekali terdapat riwayat-riwayat berupa isapan jempol belaka. Namun karena sebagai tanda penghargaan dan memuliakan Syaikh Abdul Qadir Jailani, cerita-cerita bohong dalam manaqib tersebut dianggap benar. Disebutkan bahwa konon sang Syaikh pernah berkelahi dengan malaikat, karena malaikat tersebut telah mencabut nyawa seseorang.

Itulah gambaran mereka-mereka yang berbuat ghuluw, dimana ghuluw merupakan sikap melampaui batas atau berlebihan terhadap sesuatu,.

Pengertian Ghuluw.

KH.Qomaruddin dalam buku beliau “ Ayat-ayat Larangan & Perintah Dalam al-Qur’an menuliskan Dalam kamus lisanul ‘arab disebutkan bahwa asal kata ghuluw diambil dari kata ghala yaghlu, yang secara bahasa artinya melampaui batas atau berlebih-lebihan. Penertian ghuluw dalamarti syari’at adalah berbuat melampaui batas, baik dalam keyakinan maupun amalan yang justru membuatnya menyimpang dari apa yangb telah ditetapkan oleh syari’at. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ghuluw dalam agama berarti melampaui batas dengan menambah-nambah dalam memuji sesuatu atau mencela sesuatu sehingga menyimpang jauh dari apa yang menjadi haknya

Larangan Berbuat Ghuluw

Dalil yang mengharamkan ghuluw seperti yang dikemukan oleh KH.Qomaruddin dalam buku tersebut diatas terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah . Surah an-Nisa ayat 171 merupakan salah satu dari sekian banyak dalil yang mengharamkan perbuatan ghuluw. Melalui surah ini, Allah Subhanahu Wata’ala melarang kaum muslimin berbuat melampau batas dalam agama dengan menyajikan contoh yang terjadi dilakangan kaum nasrani.


“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamudan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nyayang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” ( QS.An-Nisa: 171)


Dalam buku Ghuluw Benalu Dalam Ber-islam Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihiq dikemukan bahwa Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam melarang ghuluw atas umatnya, agar mereka tidakberbuat seperti yang diperbuat umat-umat terdahulu,yang kepada merekalah para rasul diutus. Bersama larangan ini beliau juga menjelaskan akibat dan pengaruh ghuluw.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’y dan Ibnu Majah sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhyallahu anhum:



ثَنَا يَحْيَى وَإِسْمَاعِيلُ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا عَوْفٌ حَدَّثَنِي زِيَادُ بْنُ حُصَيْنٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ الرِّيَاحِيِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ يَحْيَى لَا يَدْرِي عَوْفٌ عَبْدُ اللَّهِ أَوْ الْفَضْلُ قَالَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى رَاحِلَتِهِ هَاتِ الْقُطْ لِي فَلَقَطْتُ لَهُ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ فَوَضَعَهُنَّفِي يَدِهِ فَقَالَ بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ مَرَّتَيْنِ وَقَالَ بِيَدِهِ فَأَشَارَ يَحْيَى أَنَّهُ رَفَعَهَا وَقَالَ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ


“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku di pagi hari Aqabah, sedangkan saat itu beliau duduk di atas unta beliau: "Ambilkan kerikil untukku." Maka aku pun memungutkan kerikil untuk beliau gunakan melempar jumrah. Kemudian beliau meletakkan kerikil itu di tangannya, lalu beliau bersabda: "Seperti mereka." beliau mengucapkan dua kali. Ia Yahya mengatakan; Dengan tangannya, lalu Yahya mengisyaratkan bahwa beliau mengangkatnya. Beliau bersabda: "Janganlah kalian berlaku ghuluw (sikap berlebih-lebihan), karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena bersikap ghuluw dalam agama."

Ditambahkan oleh penulis buku tersebut diatas bahwa meskipun sebab larangan ini bersifat khusus, toh ia merupakan larangan untuk setiap ghuluw . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “ Hal ini bersifat umum untuk semua jenis ghuluw dalam keyakinan maupun dalam amal.

Ghuluw ini banyak sekali terjadi ditengah-tengah masyarakat, dimana mereka tidak menyadari bahwa sikap perbuatan yang telah dilakukannya telah melampaui batas dari seharusnya .

Allah Subhanahu Wata’ala telah menyerukan kepada hambanya untuk istiqomah dan mengikuti perintah, tidak berbuat ghuluw dan menambah-nambah, seperti yang di firmankan-Nya dalam al-Qur’an surah Hud : 112 :

“ Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “

Dari ayat tersebut Allah menghendaki hambanya agar istiqomahseperti yang diperintahkan tanpa melampaui batas dan tidak pula mengada-adakan kesulitan,mengalihkan agama ini dari kemudahan kepada kesulitan
.Sedangkan dalam surah Al-Maidah ayat 77 Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman :

“ Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.


Larangan Berbuat Ghuluw Terhadap Rasullulah Shallalahu ‘alaihi Wasallam.

Dalam surah An-Nisa :ayat 171 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“ Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.”

Mengutip sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihiq dalam bukunya Ghuluw benalu dalam ber-islam bahwa ayat tersebut Artinya, wahai Ahli Kitab,janganlah kalian ghuluw dalam agama kalian sehingga kalian melanggar kebenaran, karena perkataan kalian bahwa Isa merupakan anak Allah merupakan perkataan dari kalian yang tidak benar terhadap Allah . Janganlah kalian mengangkat Isa kedudukan Uluhiyah, sehingga kalian menjadikannya Tuhan.

Meskipun ayat tersebut mengenai orang-orang ahli kitab,tetapi hakekatnya ayat ini merupakan sinyal adanya larangan bagi umat islam untuk berbuat ghuluw, sebagaimana juga ahli kitab juga telah dilarang sebelumnya. Namun larangan ghuluw oleh sebagian kalangan umat islam tidaklah diindahkan, karena ketidak tahuan mereka atau karena mengikuti apa ujar kiai/ulama mereka berupa taqlid. Mereka telah berbuat ghuluw atau melampaui batas dan berlebihan dalam menunjukkan kecintaan, penghormatan dan pengagungan kepada Rasullulah melalui pujian-pujian serta sanjungan melalui syair shalawat yang disusun oleh ulama sastrawan islam seperti shalawat Nariyah dan burdah dimana materinya antara lain berisi sanjungan kepada Rasullulah shallawahu ‘alaihi wasallam berupa penyamaan kedudukan beliau shallalahu alaihi wasallam dengan Allah Maha Pencipta.

Berkenaan dengan larangan bersikap ghuluw dengan cara memuji dan menyanjung secara berlebihan terhadap diri Rasullulah shallahu wasallam telah disabdakan beliau sebagai mana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Telah bercerita kepada kami Al Humaidiy telah bercerita kepada kami Sufyan berkata, aku mendengar Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin 'Abdullah dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhua bahwa dia mendengar 'Umar radliallahu 'anhum berkata di atas mimbar, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan 'Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah 'abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya").

Sikap ghuluw terhadap diri Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam juga dilakukan oleh sebagian kalangan umat islam yang mengikuti sebuah aliran tashawuf yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammdad dari nur (cahaya)-Nya, lalu baru kemudian menciptakan segala yang ada ini dari nur-nya Muhammad.

Anggapan dan pemikiran yang bathil dan menyalahi syari’at itu sebenarnya telah terbantah dan didustakan oileh Allah Subhanahu Wata’ala berdasarkan firman-Nya dalam al-Qur’an sujrah Al-Kahfi ayat 110 :

“ Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."


Dari riwayat yang shahih diperoleh informasi bahwa para sahabat tidaklah memberikan penghormatan yang berlebihan kepada Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam meskipun kecintaan para sahabat pada diri beliau sedemikian rupa, ini tergambar dalam sikap para sahabat manakala menyambut/menerima atau melihat beliau shallalahu ‘alaihi wasallam , sesuai dengan hadits riwayat dari Ahmad dan At-Tirmidzi :


حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
مَا كَانَ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُوا مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ

“Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Hammad bin Salamah dari Humaid dari Anas, ia berkata; "Tidak seorangpun dari mereka yang lebih dicintainya selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun jika mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri karena mereka tahu beliau tidak menyukai hal itu."

Bandingkanlah sikap dari para sahabat tersebut ketika melihat Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam yang tidak berdiri, berbeda jauh dengan sikap kita apabila melihat pemimpin yang dihormati seperti sewaktu presiden memasuki ruangan , hadirin berdiri menyambutnya. Padahal ini sudah termasuk perbuatan ghuluw dalam memberikan penghormatan kepada seseorang.

Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya untuk mengkultuskan beliau, sesuai dengamn hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad


حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ زَعَمَ الزُّهْرِيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Telah menceritakan kepada kami Husyaim dia berkata; Az Zuhri telah menganggap (meriwayatkan) dari 'Ubaidillah Bin Abdullah Bin 'Utbah Bin Mas'ud dari Ibnu Abbas dari Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa Bin Maryam, aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”


Larangan Ghuluw Terhadap Para Ulama dan Para Orang-Orang Shalih.

Syari’at telah melarang umat islam untuk berbuat ghuluw kepada Rasullullah shallalahu ‘alaihi wasallam yang jelas dan nyata sebagai nabinya tercinta umat islam, apalagi terhadap para ulama larangan itu tentunya semakin keras.

Fenomena sikap ghuluw sebagian kalangan umat islam terhadap para ulamanya nampak sekali secara kasat mata, baik sewaktu ulama tertsebut masih hidup dan lagi-lagi setelah wafatnya, sebagaimana disebutkan pada awal tulisan ini.

Sebagaimana dikemukan oleh Ustadz H.Mahrus Ali dalam buku beliau mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir syirik bahwa menuhankan ulama adalah mengikuti pebdapat mereka sekalipun bertentangan dengan ayat al-Qur’an atau al-Hadits.Fenomena semacam ini banyak sekali terjadi dikalangan yang mengaku dirinya sebagai salafi dan ahli bid’ah. Mewreka bersikukuh kepada pendapat guru-guru mereka sekalipun bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits . Bahkan ada dikalangan mereka yang enggan mengaji kepada guru-guru lain. Ada tanda-tanda bahwa hanya guru mereka yang benar dan guru lain sesat. Marilah kita b erfsikap sederhana dan yang kita tonjolkan hanyalah dalil. Siapapun yang btak punya dalil harus ditinggalkan dan yang punya dalil harus diikuti. Iunghatlah firman Allah dalam al-Qur’an surah at-Taubah ayat 31 :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”


Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

Mereka menghormati para pemimpin atau ulama melebihi kedudukan Allah Subhanahu Wata’ala tanpa mereka sadari, dimana perintah Allah di tinggalkan untuk traat kepada pimpin atau ulama . Bila dikatakan kepada mereka ikutilah ayat-payat Allah atau hadits-hadits Rasul,merekamenjawab: kita tidak mampu mengarti maksud ayat-ayat Qur’an atau dalil hadits, kita harus ikut ulama atau tokoh –tokoh kita.

Dari keterangan diatas maka seyogyanya kita harus berhati-hati dalam bersikap terhadap ulama, karena ternyata ulama ada yang dapat menyesatkan kita dan menyeret kita kejahanam. Bersikaplah yang wajar dan hormati dan hargailah ulama sesuai dengan kedudukannya, tidak lebih dari itu, janganlah memuji dan menyanjung ulama melebihi kapasitasnya sebagai ulama.


Larangan Ghuluw Terhadap Diri Sendiri.

Islam selain melarang berbuat ghuluw terhadap diri Rasullulah shallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap para ulama atau para orang-orang shalih, larangan ghuluw diberlakukan pula terhadap diri pribadi/diri sendiri. Berlaku ghuluw terhadap diri sendiri adalah dengan melaksanakan perlakuan keras diri sendiri terutama dalam hal beribadah yang bersalahan dengan syari’at.
Mengenai larangan ghuluw terhadap diri sendiri ini telah ditegaskan oleh Rasullulah dalam hadits yang diriwqayatkan dari Anasbin Malik Radhyallahu anhu,b ahwa Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

“ Janganlah kalian berlaku keras terhadap diri sendiri, sehingga Allahpun berlaku keras terhadap kalian. Sesungguhnya ada suatu kaum yang berlaku keras terhadap diri sendiri , sehingga Allah pun berlaku keras pula terhadap mereka. Itulah sisa-sisa kehidupan mereka yang ada dibiara dan tempat pertapaan, berupa kerahiban yang mereka ada-adakan, padahal Kami tidak menetapkannya atas mereka “

Larangan berlaku keras terhadap diri sendiri dalam hal beribadah yang melampau batas juga diingatkan oleh Rasullulkah shallalahu ‘alaihi wasallam dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhyallaah ‘anhu :



حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“ Ada tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, "Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?" Salah seorang dari mereka berkata, "Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya." Kemudian yang lain berkata, "Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka." Dan yang lain lagi berkata, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya." Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: "Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku.

Hadits tersebut diatas mengandung makna bahwa siapa saja yang melakukan hal-hal yang melampaui batas dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala seperti shalat malam selama-lamanya, berpuasa sepanjang tahun, dan menjauhi wanita serta tidak menikah selama-lamanya ,berarti membenci sunnahnya Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam, karena tidak ada contoh yang sedemikian dari beliau. Dan orang-orang yang melakukan perbuatan yang melampaui batas dalam beribadah diingkari oleh Rasullulah shallalahu ‘alahi wasallam dan menganggapnya keluar dari sunnah dan petunjuk beliau.

Larangan berbuat keras terhadsap diri sendiri dalam beribadah sehingga melampaui batas kewajaran dan memaksa-maksakan diri oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam juga ditunjukkan beliau dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhyallaahu anhu:

دَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا حَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ فَقَالَ مَا هَذَا الْحَبْلُ قَالُوا هَذَا حَبْلٌ لِزَيْنَبَ فَإِذَا فَتَرَتْ تَعَلَّقَتْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا حُلُّوهُ لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ

"Pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk (ke masjid), kemudian Beliau mendapati tali yang diikatkan dua tiang. Kemudian Beliau berkata: "Apa ini?" Orang-orang menjawab: "Tali ini milik Zainab, bila dia shalat dengan berdiri lalu merasa letih, dia berpegangan tali tersebut". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jangan ia lakukan sedemikian itu. Hendaklah seseorang dari kalian tekun dalam ibadah shalatnya dan apabila dia merasa letih, shalatlah sambil duduk".

Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar dalamFathul –Bary yang dikutip oleh Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihgiq, didalam hadits ini terkandung anjuran untuk beribadah secara sederhana dan klarangan memaksakan diri dalam ibadah

Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam telah banyak mengeluarkan larangan untuk umat muslim agar tidak melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam melakukan ibadah, seperti terhadap orang yang menyiksa diri berjemur dibawah terik matahari dan berpuasa dan tidak mau bicara karena bernazar untuk itu, sesuai dengan hadits riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas radhyallaahu anhu, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَائِمٍ فِي الشَّمْسِ فَسَأَلَ عَنْهُ قَالُوا هَذَا أَبُو إِسْرَائِيلَ نَذَرَ أَنْ يَقُومَ وَلَا يَقْعُدَ وَلَا يَسْتَظِلَّ وَلَا يَتَكَلَّمَ وَيَصُومَ قَالَ مُرُوهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ

“Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah, tiba-tiba terdapat seorang laki-laki yang berdiri di bawah terik matahari. Kemudian beliau bertanya mengenainya. Mereka berkata; orang ini adalah Abu Israil, ia bernadzar untuk berdiri dan tidak duduk, serta tidak bernaung, tidak berbicara, dan berpuasa. Beliau berkata: "Perintahkan dia agar berbicara, bernaung, duduk dan menyempurnakan puasanya!"

Mengomentari hadits tersebut Ibnu Hajar rahimahullaah menyebutkan bahwa : disini terkandung bukti bahwa apapun yang yang dapat mengganggu dan menyakiti manusia meskipun berupa hal-hal yang baik, yang tidak termasuk perkara disyari’atkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, seperti berjalan tanpa alas kaki dan duduk dibawah matahari yang menyengat, yang bukan termasuk jenis keta’atan kepadaAllah, yang tidak perlu dilaksanakankan meskipun sudah dinadzarkan

Ada lagi sebuah hadits yang diriwayatkan oleh B ukhari dan Muslim dari Aisyah Radhyallaahu anha, beliau berkata :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ مَنْ هَذِهِ قَالَتْ فُلَانَةُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا قَالَ مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya dan bersamanya ada seorang wanita lain, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "siapa ini?" Aisyah menjawab: "si fulanah", Lalu diceritakan tentang shalatnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "tinggalkanlah apa yang tidak kalian sanggupi, demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang menjadi bosan, dan agama yang paling dicintai-Nya adalah apa yang senantiasa dikerjakan secara rutin dan kontinyu".

Menurut Ibnu Hajar rahimahullah, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :Hendaklah kalian berbuat menurut kesanggupan kalian, artinya kerjakannlah amal –amal yang kalian sanggup melaksanakannya secara terus menerus” Apa yang tersirat disini mengharuskan perintah membatasi ibadah menurut kesanggupan. Pengertiannya mengaruskan larangan memaksakan ibadah di luar kesanggupan.

Atas dasar beberapa hadits yang diutarakan diatas, maka serora muslim tidak perlu mewajibkan sesuatu yang berlebihan atas dirinya sehingga dengan itu diamendekatkan diri kepadaAllah Subhanahu Wata’ala . Karena yang sedemikian itu termasuk bertindak keras atas diri sendiri dengan cara melampaui batas dari yang telah ditetapkan . Sebagaimana seorang muslim tidak boleh mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, sebagaimana Firman-Nya dalam Surah Al-Maidah : 87-88 :

“. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Mengutip apa yang dikemukan dalam buku Ghuluw Benalu dalam berislam bahwa meninggalkan hal-hal yang baik dengan maksud sebagai ibadah dengan cara menyiksa diri dan berlaku keras merupakan syubhat, yang karenanya banyak para akhli ibadah dan sufi yang tertipu, karena mereka hanya sekedar ikut-ikutanm kebiasaan orang-orang sebelummereka yang dari para pendeta Nasrani yang mengada-ngada kan pola-pola kehidupan kerahiban, padahal pola itu tidak diperintahkan kepada mereka .Zuhud didunia tidak dengan cara mengharamkan yang halal dan mengabaikan harta. Semua itu termasuk perkara yang dilarang syari’at dan diperingatkan untuk tidak dilakukan.

K e s i m p u l a n
Dari uraian sederhana tersebut diatas ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik, sebagai berikut :
1. Ghuluw merupakan sikap atau perbuatan yang melampaui batas atau berlebihan dari batas kewajaran dan dari yang seharusnya.
2. Islam melarang bagi seluruh umatnya untuk berbuat ghuluw baik dalam perkataan maupun perbuatan (amaliah)
3. Penghormatan, pengagungan, penyanjungan dan pengkultusan terhadap Rasullulah shallalahu’alaihi wasallam yang berlebihan merupakan ghuluw yang dilarang.
4. Ghuluw terhadap ulama dan orang-orang shalilh yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat muslim merupakan perbuatan terlarang p;ula.
5. Bersikap keras atas diri sendiri dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu Ta’ala dengan melakukan perbuatan-perbuatan ibadah secara berlebihan yang menyiksa diri dan keluar dari syari’at merupakan perbuatan ghuluw yang terlarang dalam islam.
Wallaahu Ta’ala ‘alam
Sumber bacaan :
1. Al-Qur’an ( digital )
2. Kitab Hadits 9 Imam ( Lidwa Pusaka i- Sofware)
3. Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an KH.Qomaruddin dkk.
4. Ghuluw Benalu Dalam Ber-Islam Abdurrahman bin MNU’alla Al-Luwaihiq.
5. Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik H.Mahrus Ali
6. Bahaya Mengekor Non Muslim Muhammad bin ‘Ali Adh Dhabi’i
Selesai ditulis : Arba, ba’da zuhur 15 Ramadhan 1431 H/ 25 Agustus 2010
http://abufarabial-banjari.blogspot.com
Diposkan oleh Abu Farabi al-Banjari di 21.52 0 komentar

Jumat, 20 Agustus 2010

ISLAM MELARANG UMAT BERTASYABBUH DENGAN UMAT AGAMA LAIN



O l e h : Musni Japrie al-Pasery

Apabila kita benar-benar mau menyadari secara mendalam jumlah hitungan angka mayoritas umat islam di negeri ini menurut hitungan angka statistik, kiranya perlu dipertimbangkan kembali, karena dari segi penampakan penampilan dalam kehidupan sehari-hari ternyata jumlah golongan atau umat non muslim jauh lebih banyak hitungannya, sedangkan penampakan penampilan kaum muslimin yang berprilaku benar-benar sebagai penganut islam sangatlah terbatas.

Gambaran nyata yang disebutkan diatas adalah realita yang tidak dapat dipungkiri, karena ternyata mereka-mereka yang mengaku dirinya sebagai penganut islam penampilannya sudah menyatu dengan penampilan mereka-mereka yang non muslim, dan sudah sulit membedakannya satu sama lainnya.

Tidak hanya dari segi penampilan saja yang sulit membedakan antara kalangan umat islam dengan mereka-mereka diluar islam, bahkan dari segi kebiasaan, perbuatan dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari juga tidak nampak menonjol ciri khas keislamannya.

Hal sedemikian karena apa-apa yang menjadi ciri khas orang –orang diluar islam dalam kehidupan sehari-harinya juga telah dilakukan dan dihayati oleh sebagian terbesar umat islam. Sebagian besar mereka yang beragama islam beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sama seperti yang dilakukan oleh mereka-mereka di luar islam adalah hal yang lumrah yang tidak perlu dipermasalahkan. Padahal tanpa disadari mereka telah melakukan penyimpangan terhadap syari’at islam yang telah digariskan.

Apa saja yang dilakukan oleh kalangan non muslim, maka hal yang sama juga dilakukan oleh mereka-mereka yang mengaku sebagai muslim. Kalangan non muslim melakukan acara-acara peringatan hari kelahiran yang biasa disebut ultah, kalangan muslim juga melakukannya. Kalangan non muslim melakukan acara peringatan hari perkawinan perak dan emas, dari kalangan muslim juga tidak ketinggalan juga melakukannya. Kalangan non muslim menyelenggarakan peringatan hari besar keagamaannya, maka dari kalangan muslim juga melakukan hal yang sama. Kalangan non muslim menyelenggarakan peringatan hari kelahiran nabinya (seperti kalangan nasrani menyelenggarakan peringatan natal sebagai hari kelahiran Yesus Kristus), maka kalangan islam juga menyelenggarakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wasallam ( yang terkenal dengan maulidan). Kalangan Nasrani, Kong Chucu, Budha, Hindu dllnya menyelenggarakan peringatan penyambutan tahun baru mereka, maka dari kalangan islam juga menyelenggarakan peringatan menyambut tahun baru islam 1 Muharam.

Bahkan kaum muda di barat yang dikenal sebagai negerinya kaum nashara menyelenggarakan peringatan hari valentine sebagai hari kasih sayang, kalangan remaja islam tidak mau kalah ikut juga memperingatinya.

Ketika dari kalangan pemeluk hindu di India dan Bali dalam menyampaikan ucapan salamnya dilakukan dengan menangkupkan kedua telapak tangannya kemudian diletakkan didada, dari kalangan islam juga melakukan hal yang sama.

Kalangan hindu memberikan sesajen dan melarungkannya kelaut dalam pesta laut, maka dari kalangan islam juga menggiatkannya. Bahkan sampai pada seputar kematian, dimana orang-orang non muslim menaburkan bunga di kuburan, dari kalangan islam di negeri ini juga sudah melakukannya sejak lama, dengan meletakkan bunga dikeranda mayat dan diatas kuburan.

Menyanyi di rumah-rumah ibadah sekarang ini tidak saja dilakukan oleh kaum non muslim, tetapi juga dilakukan oleh kalangan muslim dalam bentuk kasidah dan nasyit pada acara-acara peringatan hari yang mereka namakan hari besar islam.

Apabila dirinci satu persatu tentang segala apa saja yang dilakukan oleh kalangan non muslim yang juga dikerjakan oleh kalangan islam di negeri ini, maka diperlukan begitu banyak halaman, karena banyaknya hal yang dilakukan oleh kalangan nos muslim juga dilakukan oleh kalangan islam, mungkin ada 1001 bentuk kesamaannya. Nampaknya sebagian besar kaum muslimin tidak mau ketinggalan dengan mereka-mereka non muslim, sehingga apa saja kegiatan mereka maka sebagian besar kaum muslimin juga turut melakukannya pula.

Meniru-niru,Mencontoh, Menyerupai, Mengikuti dan Menyamai Umat di Luar Islam ( Tasyabbuh)

Secara jujur harus diakui bahwa sementara ini sebagian besar umat muslimin dinegeri ini dalam menjalani kehidupan sehari-harinya telah terbelenggu dengan gaya yang sama dengan cara gaya hidupnya masyarakat non muslim, sehingga secara kasat mata bila dilihat dari penampilan sehari-harinya sudah sulit membedakan apakah seseorang itu muslim atau non muslim.

Budaya, adat istiadat, perbuatan, sikap dan tingkah laku serta kebiasaan mereka-mereka non muslim sepertinya sudah menjadi budaya, adat istiadat, perbuatan, sikap, perilaku dan kebiasaan sebagian besar orang-orang muslim. Banyak contoh baik dilihat dari gaya penampilan individu, keluarga maupun dalam kelompok yang lebih luas lagi yaitu masyarakat.

Sebagian terbesar individu-individu kaum muslimin khususnya para kaum muslimahnya telah lumrah menggunakan pakaian dengan menunjukkan auratnya, malah pakaian yang seharusnya dikenakan oleh seorang muslimah sesuai dengan syari’at sepertinya jadi asing ditengah- tengah kaum muslimah sendiri. Pakaian yang dikenakan oleh sebagian besar kaum muslimah tersebut tiada lain adalah hasil dari mengikuti atau menyerupai model pakaiannya dari kalangan diluar muslim.

Ditilik dari kacamata pergaulan muda-mudi dewasa ini sudah merupakan hal yang lumrah pasangan muda mudi menjalin hubungan pacaran, yang sebenarnya dilarang dalam islam baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunnyi maupun terbuka, hiburan berupa musik-musik dan dansa-dansa di dunia gemerlapan di malam hari, dipanggung-panggung hiburan terbuka dengan berjoget ria, mereguk minuman anggur dan miras di hotel-hotel bahkan di areal terbuka dengan pesta mabuk-mabukkan serta narkoba bukanlah budaya muslim, semuanya merupakan buah dari mencontoh dan mengikuti pergaulannya masyarakat non muslim.

Budaya menyelenggarakan peringatan hari ulang tahun (ultah) baik bagi anak-anak maupun untuk orang dewasa, sekarang ini tidak saja dilakoni oleh kalangan muslim yang bersaku tebal, tetapi juga telah memasyarakat sampai kepada kalangan muslim dengan penghasilan senin kemis, meskipun dengan sederhana.

Peringatan hari jadi perkawinan 25 tahun (perak) dan 50 tahun (emas) sudah hal yang biasa. Yang paling menonjol dan yang paling banyak digemari adalah peringatan hari kematian berupa haul atau tahlilan. Coba kita perhatikan dengan akal yang sehat apakah semua itu merupakan sebuah tradisi yang disyari’atkan dalam islam, ternyata semua itu tidak ada dicontohkan dalam islam, dan semua itu hanya meniru-niru atau mengikuti kebiasaan yang dilihat oleh mereka dari kalangan masyarakat non muslim.

Ada satu contoh lain yang nampak sangat mengganjal diseputar masjid atau langgar tempat ibadahnya kaum muslim, dimana dewasa ini pada maraknya dikembangkan kebiasaan baru berupa tembang-tembang berbagai shalawat, kasidahan, nasyid dengan diramaikan dengan gendang-gendang, dan juga diperdengarkan pula rekaman-rekaman lagu-lagu yang disebut bernuansa islam, apakah itu tidak ada bedanya dengan kegiatan ibadah kalangan nashara yang bernyanyi-nyanyi digereja mereka. Sehingga sangat kentara sekali upaya untuk menyerupai perlilaku kalangan agama lain, meskipun itu tentunya dilakukan tanpa disadari.

Contoh lain di dalam peribadatan yang terkait dengan masalah syirik, banyak diantara orang-orang islam yang mengikuti kepercayaan mereka dari kalangan agama lain, sehingga sudah lumrah dilakukannya upacara adat pesta laut dengan melarung sesajen dan pesta bumi serta persembahan-persembahan kepada gunung, pohon-pohon besar, batu-batuan , dan juga persembahan kepada dewa-dewa berupa pemberian sesajen yang dinamakan ancak yang ditiru dari penganut agama nenek moyang berupa kepercayaan aninisme.

Berkaitan dengan hal kematian dan penguburan jenazah, sementara oleh kalangan umat islam meletakkan gambar atau foto si mati diujung kaki jenazah yang ditiru dan mengikuti kalangan nashara dan kaum kongchutsu. Dan yang paling banyak dilakukan oleh orang-orang islam ketika ada kematian meletakkan bunga diatas keranda jenazah, diatas batu nisan dan menabur bunga-bungan diatas pusara adalah ditiru dari tradisi penganut agama hindu di India.Karena Islam sendiri tidak mengenal hal yang sedemikian.
Begitu juga dewasa ini sudah menjadi kebiasaan dilakukan oleh sebagian orang-orang islam, setelah selesai penguburan salah seorang yang mengatas namakan ahlul bait berpidato menyampaikan ucapan terimakasih kepada para pengantar jenazah, memintakan maaf atas kesalahan si jenazah dan mohon didoakan agar dosa-dosanya diampuni Allah dan pahalanya diterima. Ternyata prosesi sambutan itu tidak lain mengikuti dan meniru apa yang dilakukan oleh kalangan kaum nashara pada saat dilakukannya penguburan berupa khotbah oleh pendeta/pastur mereka.
Tradisi yang juga ditiru dari kaum nashara oleh orang-orang muslim adalah mengirimkan karangan bunga dengan pernyataan belasungkawa.


Satu lagi contoh kecil lagi, namun sekarang ini sudah merambah kemana-mana yang ditontonkan oleh berbagai televisi sehingga menyebar dan dianggap sesuatu yang baik oleh masyarakat islam yang masih awam yaitu cara menyampaikan ucapan salam yang diikuti dengan gerakan menangkupkan (mempertemukan) dua telapak tangan kemudian ditempatkan kedua tangan tersebut didada. Prilaku seperti itu persis seperti melakukan penyembahan kepada raja di jaman dulu atau mereka penyembah berhala. Apa yang telah dilakukan tersebut tidak ada dalam tuntunan islam, tetapi oleh orang-orang yang awam ditiru mereka dari orang-orang beragama hindu di India.

Sebenarnya, apabila akan mengupas segala hal yang dilakukan oleh sebagian orang-orang muslim yang ditiru atau diikuti mereka yanmg berasal dari luar islam sangatlah banyak sekali, mungkin ada 1001 macam tingkah laku, dan tidaklah pada tempatnya disini untuk menuliskannya secara lengkap. Apa yang dikemukakan diatas hanyalah sekedar contoh kecil atau hanya bagian permukaan dari gunung es yang terlihat.

Mengambil dan menyerap bagian prilaku kehidupan dari masyarakat agama lain oleh kalangan masyarakat muslim berupa tindakan meniru-niru atau berupaya untuk menyerupai mereka dengan maksud mungkin sepertinya tidak ada perbedaan diantara mereka. Juga agar mereka dapat diterima ditengah-tengah masyarakat yang beragam . Selain itu motif yang paling menonjol adalah agar dikatakan sebagai masyarakat yang modern karena telah melakukan apa-apa yang juga dilakukan oleh masyarakat dunia secara global.

Kebanyakan masyarakat islam di negeri ini paling getol untuk meniru-niru atau menyerupai sesuatu dari masyarakat diluar islam, agar tidak tertinggal dalam pergaulan. Yang semuanya mereka lakukan secara sadar, tetapi tidak memahami bahwa pada hakekatnya apa-apa yang mereka tiru atau serupai ternyata membahayakan dan dapat menggelincirkan mereka kepada apa yang dinamakan tasyabbuh.


Islam Melarang Umatnya untuk Meniru-niru, Mencontoh, Menyerupai, Mengikuti, dan Menyamai Umat di Luar Islam ( Tasyabbuh)

Allah Azza Wa’jalla dalam telah berfirman seperti yangb tertuang dalam al-Qur’an surah al-Maa’idah ayat 3 :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Mengutip apa yang ditulis oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku beliau Risalah Bid’ah, bahwa didalam ayat yang mulia ini, Allah menegaskan bahwa agama ini ( islam) telah sempurna dan lengkap,yang tidak memerlukan sedikitpun tambahan dan penmgurangan, apapun bentuk dan alasannya dan tambahan-tambahan tersebut meskipun disangka baik atau dari siapa saja datangnya meskipun dianggap benar oleh sebagian manusia, adalah suatu perkara besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasulnya. Akan tetapi sangat dicintai oleh iblis dan pengikutnya.

Berkaitan dengan telah sempurnya islam ini sesuai dengan firmal Allah Azza Wajalla tersebut diatas, Ustazd Abdul Hakimbin Amir Abdat juga melengkapinya dengan mengutip sebuah hadits riwayat dari Muslim :

دَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ
قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dan Waki' dari al-A'masy. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya sedangkan lafazh tersebut miliknya. Telah mengabarkan kepada kami Abu Muawiyah dari al-A'masy dari Ibrahim dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman dia berkata, "Ditanyakan kepadanya, '(Apakah) Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu hingga adab beristinja? ' 'Abdurrahman berkata, "Salman menjawab, 'Ya. Sungguh dia telah melarang kami untuk menghadap kiblat saat buang air besar, buang air kecil, beristinja' dengan tangan kanan, beristinja' dengan batu kurang dari tiga buah, atau beristinja' dengan kotoran hewan atau tulang'."

Dikemukakan oleh Ustazd Abdul Hakim bin Amir Abdat bahwa seorang musyrikin bertanya kepada sahabat dengan nada kesal dan mengejek. Dan jawaban sahabat menegaskan kepada kita: sesungguhnya Rasullulah shalalahu’alaihi wasallam telah mengajarkan kepada umatnya segala sesuatu tentang agama Allah ini (al-islam),baik aqidah, ibadah dan lain lain sampai kepada adab-adab buang air.

Dari ayat al-Qur’an dan hadits tersebut diatas, disebutkan bahwa sebenarnya islam dengan seluruhnya syari’atnya sudah sempurna dan sangat lengkap untuk dijadikan panduan atau guide book oleh pemeluknya sampai-sampai hal yang sangat sepele tentang adab buang air saja sudah diajarkan. Karena sudah lengkap sudah barang tentu tidak boleh ada lagi tambahan-tambahan yang datangnya dari mana saja, termasuk tentunya mencontoh atau meniru-niru dari agama lain. Kalau memang tidak ada petunjuknya maka berarti itu memang tidak dibolehkan untuk dilakukan.

Sikap meniru-niru atau mencontoh atau menyerupai kepada kalangan agama lain oleh orang-orang islam , jauh-jauh hari telah disinyalir oleh Rasullulah shalalahu alaihi wasallam yang tergambar dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id bin Al-Khudri :

دَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
و حَدَّثَنَا عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا أَبُو غَسَّانَ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ وَذَكَرَ الْحَدِيثَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari 'Atha bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti kalian akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka.".-

Mengutip tulisan Jamil bin Habib Al- Luwaihiq dalam buku beliau Tasyabbuh yang Dilarang dalam Fiqih Islam : bahwa ketika syariat islam berbeda dari syariat yang lain, dan kaum muslimin berbeda dengan kaum-kaum lain adalah sesuatu yang memang telah disengaja oleh Penetap Syariat. Harapannya adalah agar setiap muslim tampil dengankondisi yang paling sempurna sesuai dengan dirinya. Hukum-hukum syari’at juga telah muncul dengan larangan untuk mengikuti bangsa bangsa kafir terdahulu dan terkini.
Tasyabbuh (latah, meniru-niru, menyerupai, mirip) secara umum adalah salah satu permasalahan yang sangat berbahaya bqagi kehidupan kaum muslimin, khususnya di abad-abad belakangan ini karena meluasnya daedrah interaksi kaum muslimin dengan pihak-pihak lain.

Dalam bukunya Bahaya Mengekor Non Muslim Muhammad Bin ‘Ali Adh Dhabi’i menyebutkan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata bahwa Abu Daud telah meriwayatkan sedbuah hadits hasan dari Ibnu ‘Umar,ia berkata bahwa Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“ Barang siapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka”

Selanjutnya disebutkan bahwa hadits diatas menetapkan haramnya meniru-niru kepada sesuatu kaum diluar islam, secara dhahir menunjukkan bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan kufur dan hal ini sejalan denagn hadits yang diriwayatkan darei Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“ Barang siapa menetap di negeri kaum musyrik dan aia mengikuti hari raya dan hari besar mereka, serta meniru prilaku mereka sampai mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka dihari kiamat.” ( HR.Baihaqi)

Dari hadits diatas bisa berarti bahwa meniru-niru perilaku mereka sepenuhnya menyebabkan kekafiran, sekaligus menetapkan bahwa perbuatan semacam itu haram. Atau bisa juga bermakna orang tersebut menjadi bagian dari mereka sesuai dengan kadar keterlibatannya dalam meniru mereka.

Tegasnya hadits tersebut diatas menetapkan haramnya meniru mereka . Larang ini mencakup arangan sekadar meniru sesuatu yang mereka lakukan. Barang siapa yang meniru perbuatan golongan lain yang menjadi ciri golongan tersebut, maka perbuatan semacam itu dilarang.

Dari keterangan yang telah dikemukakan diatas maka sangatlah jelas adanya dalil yang dapat dijadikan dasar dan hujjah agar kaum muslimin tidak meniru-niru, menyerupai, mirip dan ikut-ikutan dengan perilakunya mereka-mereka diluar islam. Dan secara tegas telah ditetapkan perbuatan meniru-niru kepada orang-orang diluar islam merupakan perbuatan terlarang dan diharamkan.


Menyelisihi atau Berbeda Dengan Golongan Lain Merupakan Tujuan Syari’at.

Islam melarang umatnya meniru-niru umat lain, dan memerintahkan menyelisihinya, sesuai dengan sabda Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam,. Yang diriwqayatkan oleh Muslim :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي جَمِيعًا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya -yaitu Ibnu Sa'id-. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku semuanya dari Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot,berbedalah kalian dari golongan majusi “

Muhammadbin ‘Ali Adh Dhabi’i dalam bukunya Bahaya mengekor non Muslim mengemukakan bahwa hadits tersebut diakhiri dengan perintah yang sedlaras adengan bagian awalnya. Hadits itui menunjukkan bahwa sifat berbeda terhadap golongan majusi merupakan tujuan syari’at. Tujuan ini merupakan salah satu sebab adanya ketetapan hukumkini. Secara umum berlaku sebab ketetapan suatu hukum telah lengkap.
Oleh karena itu, setelah kaum salaf memahami larangan menyerupai golongan majusi dalam hal kumis dan jenggot,mereka juga membencimenyerupai hal-hal yang lain yang merupakan kebiasaan majusi walaupun tidak ditegaskan secara khusus oleh Nabi shallahu ‘alaihi wasallam.

Dihadits lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhyallaahu anhum ia berkata bahwa Rasullullah shalalahu ‘alaihi wasallam
Bersabda “

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي قَيْسٍ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ جَمِيعًا عَنْ وَكِيعٍ ح و حَدَّثَنِيهِ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ كِلَاهُمَا عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيٍّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari Musa bin Ulay dari bapaknya dari Abu Qais Maula Amru bin Ash, dari Amru bin Ash bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur."

Berdasarkan hadits tersebut secara tegas Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam menyatakan adanya perbedaan antara ibadahnya orang-orang islam dengan jahudi. Dan umat islam diperintahkan untuk menyelisihinya.


Hikmah Pelarangan Bertasyabbuh Kepada Orang-Orang di Luar Islam

Didalam buku Tasyabbuh yang dilarang dalam Fiqih Islam oleh Jamil bin Habib Al-Luwaihiq dikemukan bahwa pelarangan bertasyabbuh kepada orang-orang kafir memiliki beberapa hikmah antara lain :

Hikmah Pertama : Pelarangan bertasyabbuh kepada mereka adalah untuk pemutusan jalan yang menuju kepada kecintaan dan kecendrungan kepada mereka dan segala hal yang menjadi akibat semua itu berupa kerusakan karena menganggap baik jalan mereka. Karena telah diketahui bahwa bertasyabbuh kepada mereka dalam aspek apapun akan mewariskan kesesuaian dan kedekatan.
Kecendrungan dan kecintaan ini kadang-kadang menyebabkan berbagai kerusakan dahsyat yang kadang-kadang menyampaikan orang kepada keadaan kafir dan keluar dari islam. Oleh sebab itu datanglah syariat inhi untuk membendung jalan menuju berbagai kerusakan.

Hikmah Kedua : Sesungguhnya dalampelarangan bertasyabbuh kepada orang –orang kafir terdapat pengamanan bagi kepemimpinjan,keistimewaan, dan kesempurnaan umat ini. Karena taklidnya kepada yang lain,tidak diragukan akan menghilangkan semua itu..

Hikmah ketiga : Sesungguhnya perbuatan orang-orang kafir dengan berbagai kelompoknya, tidak lepas dari kekurangan dan kerusakan . Bahkan kekurangan menjadi keharusan yang mengikat bagi perbuatan-perbuatan mereka itu
Meninggalkan bertasyabbuh kepada perbuatan perbuatan mereka adalah suatu keadaan yang sebenarnya adalah keselamatan dari apa-apa yang lekat dengan perbuatan-perbuatan mereka berupa kekurangan dan kerusakan.
Bersikap berbeda dengan mereka dalam segala perkara mereka mengandung manfaat dan kebaikan bagi kita umat islam.

Hikmah keempat : Sesungguhnya dalam meninggalkan tasyabbuh kepada orang-orang kafir, adalah wujud nyata dari makna pemutusan diri (bara) dari mereka dan kemarahan kepada mereka karena Allah Ta’ala.

Hikmah kelima : Sesungguhnya larangan bertasyabbuh kepada orang-orang kafir selalu menuju kepada upaya merealisir tujuan syari’at, yaitu membedakan orangh-orang kafir dari orang-orang islam agar dikenali. Apalasi mereka memiliki perbuatan-perbuatan, pakaian-pakaian, dan tradisi-tradisi khusus. Sehingga urusan mereka tidak bercampur aduk dengan urusan semua manusia sehingga orang tertipu oleh mereka karena tidak mengenal mereka. Aagar tidak ada kesempatan bagimerelka untukmenyebarkan racun mereka karena hilangnya apa-apa yang membedakan mereka dari kaum muslimin.


K e s i m p u l a n
1. Islam sebagai agama wahyu telah memiliki kesempurnaan yang paripurna, yang tidak dapat lagi diganggu gugat oleh pemeluknya dengan menambah-nambah sesuatu yang dianggap baik menurut hawa nafsu dan pikiran dengan menyerap apa-apa dari kalangan orang-orang non mulim . Islam telah memiliki aturan sampai kepada yang paling terkecil seperti adab buang air, apalagi masalah-masalah yang besar tentunya sudah digariskan. Hal-hal lain yang tidak digariskan berarti itu islam memandangnya sebagai sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi pemeluknya, dan islam melarang umnatnya melakukan seuatu yang tidak ada petunjuknya.

2.Meniru-niru, mencontoh, mengikuti, menyamai, menyerupai segala bentuk sikap hidup, perilaku, kebiasaan, adat istiadat, tradisi dan perbuatan orang-orang diluar islam yang dilakukan oleh umat islam dinamakan tasyabbuh.

3.Tasyabbuh merupakan perbuatan tercela dan dilarang di dalam islam sesuai dengan kaidah dan dalil-dalil hukum yang dijadikan sandaran. Karenanya sudah menjadi kewajiban bagi seluruh individu, keluarga dan masyarakat islam secara menyeluruh untuk segara meninggalkan segala bentuk apa saja yang mereka serap dari pergaulannya dengan kalangan di liar islam.

4. Syari’at islam berupa al-Qur’an dan as-sunnah Nabi shalalahu ‘alaihi wasallam sudah sangat lengkapdan memadai dalam mengatur apa dan bagaimana segala bentuk dan macam perbuatan yang harus dilakukan oleh umatnya dalam menjalankan kehidupan kesehariannya, sehingga tidak diperlukan lagi sesuatu yang datangnya dari luar.

Wallaahu Ta’ala ‘alam

Sumber bacaan :
1. Al-Qur’an dan terjemahan ( Departemen Agama RI)
2. Ensiklopedi hadits Kitab 9 Imam www.lidwapusaka.com
3. Tasyabbuh yang Dilarang Dalam Fiqih Islam Jamil bin Habib Al-Luwaihiq.
4. Bahaya Mengekor non Muslim Muhammad bin ‘Ali Adh Dhabi’i
5. Parasit Aqidah A.D. El.Marzdedeq.
6. Mengupas Sunnah Membedah Bid’ah.
7. Risalah Bid’ah Abdul Hakim bin Amir Abdat.

Diselesaikan pada Sabtu, 11 Ramadhan 1431 H / 21 Agustus 2010.

Senin, 16 Agustus 2010

Beribadah Dengan Ikhlas Tidak Akan Diterima , Tanpa Ittiba' Kepada Rasullulah Shalalahu 'alaihi Wasallam

O l e h : Musni Japrie al-Pasery

Seorang sahabat dekat penulis memberitahukan bahwa menjelang keberangkatannya untuk melakukan perjalan umrah ke Tanah suci bersama keluarganya, terlebih dahulu akan menyelenggarakan hajatan selamatan syukuran dengan mengundang para keluarga, sahabat dan para tetangga, agar didoakan selamat selama dalam perjalanan.

Sebagai seorang sahabat dekat penulis berkewajiban untuk mengingatkan bahwa acara syukuran seperti yang direncanakan tersebut sebenarnya tidak perlu dilaksanakan, karena termasuk dari mubazir dan yang lebih-lebih lagi tidak ada tuntunanya dari Rasullulah shalalalahu ‘alaihi wasallam. Dan sepertinya didalamnya ada terselip keinginan untuk memberitahukan kepada orang-orang tentang keberangkatan menunaikan ibadah umrah . Dan ini termasuk riya, yang dikatagorikan sebagai syirik kecil.

Sahabat tadi membantah adanya anggapan yang saya kemukakan, karena niatnya mengundang hanyalah sekedar silaturakhim dengan sesama muslim dan menghidangkan makanan kepada mereka,dan itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, tanpa adanya embel-embel yang lainnya.

Berargumen dengan tergantung kepada niat, ini juga pernah dikemukakan seseorang pada saat berziarah kesalah satu kuburnya orang shalih yang dianggap wali dan berkramat. Orang tersebut berujar bahwa ia berziarah ke kubur wali yang berkramat tersebut niatnya bukan untuk menyekutukan Allah, tetapi sekedar menunjukkan penghormatan kepada wali Allah, kemudian berdoa dan membaca ayat- ayat al-Qur’an sehingga ia akan mendapatkan ganjaran pahala. Samasekali tidak ada niat menyembah kubur, karena ia menyadari bahwa menyembah kubur itu berarti sama dengan menyembah berhala dan ini jelas kesyirikan nya.

Selain contoh kasus yang dikemukakan diatas, banyak lagi kasus lain lagi tentang banyaknya orang-orang yang berargumen dengan tergantung niatnya dalam membenarkan sesuatu yang sebenarnya dinilai telah melanggar rambu-rambu syari’at islam.

Ikhlas dan Niat dalam Segala Perilaku Kehidupan

Memang benar, bahwa Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan tentang “ semua perbuatan tergantung niatnya”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam sebuah hadits dalam Bab : Bagaimana Dimulainya Wahyu Kepada Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam :

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ
قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"

Hadits shahih tersebut diatas oleh banyak orang dijadikan dalil untuk membenarkan bahwa apa-apa yang dikerjakannya tidak menabrak syari’at karena sudah sesuai dengan niatnya sejak awal.

Penggunaan hadits tentang semua perbuatan tergantung niatnya, dalam membenarkan tindakan nampaknya selama ini sudah terjadi distorsi atau penyimpangan makna dari yang sebenarnya. Karena sebenarnya apabila diperhatikan secara seksama dan mau mendalaminya makna hadits riwayat Bukhari tersebut menurut pendapat para ulama adalah berkaitan dengan niat yang ikhlas dalam perilaku kehidupan ,yang tentunya harus selaras dengan syari’at .

Hadits Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam tentang tergantung pada niat di dalam Riyadhush-shalihin oleh Imam Nawawi, diketengahkan dalam bagian paling awal dibawah judul “ Ikhlas dan Niat dalam Segala Perilaku Kehidupan” dijelaskan oleh Al-Bani di catatan kaki dalam mentakhrij buku tersebut : “ wajibnya berniat di dalam setiap jenis ibadah,baik yang dimaksudkan untuk ibadah itu sendiri, seperti shalat, atau ibadah yang dimaksudkan sebagai syarat bagi jenis ibadah yang lain, seperti bersuci ( wudhu). Niat ini diwajibkan , karena tanpa niat, keikhlasan sulit digambarkan secara lahir. Hal ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling benar, tanpa ada keraguan didalamnya.

Sehingga dari uraian diatas, maka seyogyanya dalam melakukan berbagai kegiatan terutama hal-hal yang tidak sejalan dengan syari’at tidaklah selalu berdalih dengan tergantung niatnya

Mekipun dalam melakukan segala perilaku kehidupan telah bersikap ikhlas dan mempunyai niat, namun apabila tidak bersesuaian dengan tolok ukur As-sunnah maka akan tertolak.


Mencontoh Nabi Shallalahu ‘alaihi Wasallam



Rasullullah shalalahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan tugas dan fungsi beliau sebagai utusan Allah yang memberikan bimbingan dan petunjuk kepada umatnya tentang bagaimana menunaikan kewajiban sebagai umat islam khususnya tentang beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai bentuk perwujudan keta’atan seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.

Keta’atan umat islam kepadaAllah Subhanahu Wata’ala adalah sebagai manifestasi keimanannya kepada Allah dan Rasulnya, dan merupakan kewajiban yang diperintah oleh Allah SubhanahuWata’ala dalam al-Qur’an surah Ali Imran :31

“ Katakanlah : “ Jika kamu ( benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,niuscaya Allah Mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “
Menurut Ibnu Katsir : ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak menempuh jalan Muhammad, Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia adalah pembohong dalam pengakuan cintanya itu sehingga dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam dalam semua ucapan dan perbuatannya.
Dari tafsir tentang ayat 31 Surah Ali Imran tersebut diatas, maka siapa saja yang mengaku sebagai orang yang beriman dan mengaku mencintai Allah, maka wajib baginya untuk mengikuti Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam dalamsemua ucapan dan perbuatannya. Kalau menyalahi tuntunan yang disampaikan oleh Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam dia disebut sebagai pembohong dalam penghakuan cintanya itu.
Berdasarkan kepada al-Qur’an ayat 31 surah Ali Imran yaqng dikutipkan diatas sudah selayaknya setiap insan muslim untuk mempedomani seluruh perbuatan, tingkah laku, perkataan dan sikap hidup Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam yang telah diinvetarisir melalui hadits-hadits yang shahih.
Mencontoh Nabi shalalahu ‘alaihi wasallam dalam beramal adalah bagian dari keta’atan kepada beliau, dimana ini sangat ditekankan sehingga amal yang dilakukan tetapi tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasullal shalalahu ‘alaihi wasallam tidak diterima. Hal ini dipertegas dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu Daud :
دَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ قَالَ ابْنُ عِيسَى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَنَعَ أَمْرًا عَلَى غَيْرِ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah Al Bazzaz berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far Al Makhrami dan Ibrahim bin Sa'd dari Sa'd bin Ibrahim dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah radliallahu 'anha ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam a bersabda: "Barangsiapa membuat-buat suatu perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka akan tertolak." Ibnu Isa menyebutkan, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membuat perkara baru selain dari yang kami perintahkan maka akan tertolak."
Hadits diatas secara tegas menyatakan bahwa siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah yang datangnya dari Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam baik yang berbentuk perbuatan sebagai contoh atau dalam bentuk perkataan yang diucapkan beliau mengenai sesuatu amalan yang harus dikerjakan, maka amalan tersebut tidak diterima disisi Allah.

Sehingga dengan demikian sia-sialah amalan yang dilakukan karena tidakmendapatkan ganjaran pahala, malah sebaliknya menjadi berdosa karena membuat-buat amalan sendiri yang melebihi kapasitasnya sebagai pembuat syari’at. Karena pembuat syari’at dalam agama ini hanya Allah Subhanahu Wata’ala fdan Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan syari;at itu telah tetap dan lengkap serta baku adanya. Tidak seorangpun yang diperbolehkan membuatnya.

Melakukan segala amal kebajikan tidak hanya sekedar berdasarkan kepada adanya niat dan keikhlasan, tetapi diterima atau tidaknya amal kebajikan tersebut oleh Allah Subhanahu Wata’ala juga ditentukan oleh faktor bersesuaiannya dengan syari’at, yang dalam hal ini adalah As-Sunnah Rasullulah shallalahu ‘alaihi wassallam. Karenanya segala amal kebajikan dilakukan harus mengacu kepada ada atau tidaknya contoh yang dilakukan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam. Apabila amal kebajikan itu memang pernah dilakukan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam maka itulah yang wajib di contoh dan diikuti oleh umatnya.

Mencontoh Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dalam mengamalkan sesuatu yang ditinggalkan dan berpegang teguh kepada sunnah beliau sebagaimana disabdakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ قَالَ
وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ وَمَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ حَيْثُمَا انْقِيدَ انْقَادَ


Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah yaitu Ibnu Shalih dari Dlamrah bin Habib dari Abdurrahman bin 'Amr As-Sulami sesungguhnya telah mendengar Al 'Irbadl bin Sariyah berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang menyebabkan mata bercucuran dan hati menjadi tergetar. Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah nasehat perpisahan, apa yang anda janjikan kepada kami?". Beliau bersabda: "Sungguh saya telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang sangat jelas, malamnya sebagaimana siangnya. Tidak akan menyeleweng setelahku kecuali dia akan binasa. Barangsiapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah Khulafa' Rasyidin yang mendapat petunjuk. Kalian harus taat, walau terhadap hamba dari Habasyah, gigitlah dengan gigi geraham. Hanyasanya seorang mukmin itu laksana unta yang penurut, kemana dituntun dia akan nurut."

Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam sebagai utusan Allah Subhanahu Wata’ala telah menyampaikan risalahnya kepada seluruh hambanya kaum muslimin, yang merupakan ikutan paling terbaik untuk dicontoh, sedangkan yang diluar itu adalah termasuk perkara bid’ah sehingga harus ditinggalkan dan dijauhi. Hal ini sesuai dengan sabda b eliau yang diriwayatkan Muslim:

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah,dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad: seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan di dalam neraka.”

Ittiba’ atau mengikuti Rasullulah dalam melakukan semua amal kebajikan adalah merupakan hal yang terpuji karena selarasdan sejalan dengan sunnah sebagai syari’at islam.

F a e d a h

1.Segala amal kebajikan yang dilakukan tidak cukup dengan syarat iklas hanya untuk Allah Azza Wa’jalla semata tetapi ada syarat lain yaitu berupa iitiba’ kepada Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam, dengan mencontoh kepada apa yang dilakukan oleh beliau , sedangkan yang tidak pernah dilakukan atau dicontohkan beliau atau yang diperintahkan beliau harus ditinggalkan dan dijauhi, karena itu adalah bid’ah. Janganlah mencoba-coba untuk membuat amalan baru, agar dianggap banyak melakukan ibadah dan dikira akan mendapatkan pahal yang banyak pula

2. Orang yang mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah Azza Wajalla semata, dan dalam melakukan ibdah itu ia mencontoh Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam , maka amalannya tersebut akan diterima .

3. Orang yang kehilangan keikhlasan dan kehilangan ittiba’ kepada Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam , atau kehilangan salah satu diantara keduanya, maka amalannya itu akan tertolak.

Wallaahu Ta’ala ‘alam.

Sumber bacaan :

1. Al-Qur’an dan terjemahan ( Departemen Agama RI )
2. Tafsir Ibnu Katsir (
3. Enseklopedi Hadits 9 Imam (lidwa Pusaka)
4. Shahih riyadhush shalihin oleh Syaikh Muhammas Nmasiorudin al-Bani
5. Kumpulan Tanya-Jawab Bid’ah dalam Ibadah Syaikh Abdul Aziz bin Baz
6. Mengupas Sunnah Membedah Bid’ah

Selesai diposting , Selasa, 7 Ramadhan 1431 H/17 Agustus 2010 M

Kamis, 12 Agustus 2010

ISLAM MELARANG GHIBAH ATAU MENGGUNJING


Islam Melarang Untuk Ghibah atau Menggunjing


O l e h : Abu Farabi al-Banjar

Apabila berkumpul orang-orang lebih dari satu kemudian mereka berbincang-bincang satu sama lainnya, maka dapat dipastikan ujung-ujungnya topik pembicaraan akan beralih kepada membicarakan seseorang yang mereka kenal yang berkaitan dengan hal-hal yang negatif atas diri orang yang dibicarakan tersebut.

Membicarakan orang lain yang kebetulan tidak hadir diantara mereka ini dikenal ditengah-tengah masyarakat sebagai pergunjingan atau disebut juga dengan menggosip. Dan dalam syari’at islam hal itu dinamakan dengan ghibah.

Menggunjing, menggosip, merumpikan orang semuanya adalah ghibah, dan merupakan akitifitas lisan yang tanpa disadari dilakukan oleh banyak orang dimanapun mereka berada berkumpul bersama sahabat-sahabat mereka, baik itu pria, wanita, tua, muda, dewasa maupun remaja, apabila topik pembicaraan sudah memasuki wilayah membicarakan orang lain yang tidak hadir ditengah mereka, maka mereka kadang-kadang lupa diri hingga gilirannya sampai kepada memfitnah.

Menggunjing atau ghibah, meskipun suatu perbuatan yang tidak terpuji, tetapi sepertinya malah sangat disukai oleh semua orang dan dianggap sebagai perkara yang sah-sah saja yang tidak menimbulkan resiko apapun juga. Menggunjing atau ghibah di negeri ini sudah menjadi bagian dari setiap pembicaraan, malah karena dianggap sebagai budaya, maka sampai-sampai dalam berkumpulnya orang-orang dalam majelis ilmu ( seperti ta’lim atau pengajian) tidak luput darinya.

Saking sudah memasyarakatnya ghibah ditengah-tengah kehidupan kaum muslimin di negeri ini, meskipun tercela namun oleh orang-orang yang dipikirannya dipenuhi bagaimana cara mendapatkan rupiah sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan kepentingan orang-orang lain yang dirugikan nama baiknya, jadilah ghibah sebagai satu mata acara suguhan media masa layar kaca dihampir setiap stasiun penyiaran dengan nama keren infotaimen.

Sehingga karena infotaimen pada ghalibnya adalah berisi ghibah, maka sudah sepatutnya diharamkan oleh Majeleis Ulama Indonesia. Keharamannya tidak saja bagi yang menyelenggarakan dengan seluruh perangkat kerja pendukungnya, tetapi juga bagi para pemirsa yang menyukainya.

Dalil-Dalil Larangan Ghibab

Ghibah merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan dalam islam berdasarkan beberapa dalil baik beruapa ayat al-Qur’an maun hadtis Rasullulal shalalahu ‘alai wasallam.

Dalam al-Qur’an suar al- Hujurat ayat 12 , Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. “

KH.Qamaruddin Shaleh dkk dalam bukunya Ayat-ayat larangan dan perintah dalam Al-Qur’an , mengemukakan tentang sebab-sebab/latar belakang turunnya ayat tersebut (asbaabun Nuzuul ) bahwa telah diriwayatkanm oleh Ibnu Munndzir sebuah keterangan yang bersumber dari Ibnu Juraij, berkenaan dengann sebab tutunnya surah al-hujuraat ayat ke 12. Dalam riwayat ini dikemukan tentang kebisaan Salman al-Farisi yang langsung tidur mendengkur bila selesai makan. Lantas muncullah seseorang yang mempergunjingkan perbuatan Salman tgersbut. Maka Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan ayt ke 12 yang melarang perbuatan mengumpat dan menceritakan aib orang lain.

Dari riwayat asbaabun nuzuul diatas disebutkan bahwa meskipun hanya menggunjingkan hal sepele yaitu tentang tidurnya Salman Farisi setelah makan, langsung mendapatkan teguran dari Allah Subhanahu Wata’ala, apalagi hal-hal yang digolongkan masalah besar seperti penghinaan, menyangkut harkat dan martabat serta harga diri seseorang atau kelemahan kelemahan orang lain yang mungkin membuat orang yang digunjing merasa dipermalukan, maka tentunya lebih terlarang lagi.

Buruknya perbuatan ghibah oleh Allah Subhanahu Wata’ala digambarkan bahwa orang yang melakukan ghibah atau pergunjingan bagaikan orang yang memakan daging saudaranya yang mati, maka tentulah merupakan suatu perbutan yang menjijikkan. Seorang mukmin akan merasa jijik dan muak bila memakan bangkaimanausia lainnya.Karena itu seorang mukmin seharusnya tidak berminat membicarakan keburukan orang lain.

Larangan ghibah juga telah ditegaskan oleh Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits riwayat Muslim ( hadits no.4690 ) “

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ وَعَنْ هِبَتِهِ
قَالَ مُسْلِم النَّاسُ كُلُّهُمْ عِيَالٌ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ فِي هَذَا الْحَدِيثِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ سَعِيدٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ يَعْنِي ابْنَ عُثْمَانَ كُلُّ هَؤُلَاءِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّ الثَّقَفِيَّ لَيْسَ فِي حَدِيثِهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ إِلَّا الْبَيْعُ وَلَمْ يَذْكُرْ الْهِبَةَ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya:

"Tahukah kamu, apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab; 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.' Seseorang bertanya; 'Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.'

Dari sabda Rasullulah shalalahu ‘alaihi wassallam tersebut diatas dapatlah disimak bahwa, ghibah yang dalam kita sehari-hari disebut sebagai pergunjingan atau yang dikenal lagi dengan sebutan yang lagi ngeteren sebagai gosip, yaitu membicarakan keburukan sesama mukmin tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan merupakan perbuatan yang dilarang. Meskipun apa yang dibicarakan tentang keburukan seseorang itu benar terdapat pada orang tersebut. Namun apabila keburukan dipergunnjingkan tersebut itu dusta ( tidak terdapat pada orang dibicarakan ) maka perbuatan itu disebut fitnah, sedangkan fitnah juga terlarang dalam islam.

Larangan ghibah oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam, secara gamblang ditegaskan lagi dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ( no.4232 ) sebagai berikut :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ الْأَقْمَرِ عَنْ أَبِي حُذَيْفَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ غَيْرُ مُسَدَّدٍ تَعْنِي قَصِيرَةً فَقَالَ لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ قَالَتْ وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا فَقَالَ مَا أُحِبُّ أَنِّي حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَأَنَّ لِي كَذَا وَكَذَا

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan ia berkata; telah menceritakan kepadaku Ali Ibnul Aqmar dari Abu Hudzaifah dari 'Aisyah ia berkata; aku berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

, "cukuplah Shafiah bagimu seperti ini dan seperti ini- maksudnya pendek-." Beliau lalu bersabda: "Sungguh engkau telah mengatakan suatu kalimat, sekiranya itu dicampur dengan air laut maka ia akan dapat menjadikannya berubah tawar." 'Aisyah berkata, "Aku juga pernah mencerikan orang lain kepada beliau, tetapi beliau balik berkata, "Aku tidak menceritakan perihal orang lain meskipun aku beri begini dan begini."



Mengingat sudah sangat jelasnya ditegaskan tentang larangan ghibah atau menggunjing atau menggosipkan orang lain, maka seorang mukmin seharusnya menghindarkan diri dari membicarakan keburukan orang lain. Karena sesungguhnya siksa yang dipersiapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala terhadap siapa saja yang suka membicarakan keburukan orang lain sangatlah keras dan pedih.

Mengenai siksa yang sangat keras dan pedih bagi para pengghibah atau penggunjing atau penggosip disebutkan oleh Rasullulah shalalahu ‘alaih wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud (no.4235 ) :


حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُصَفَّى حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ وَأَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَا حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ حَدَّثَنِي رَاشِدُ بْنُ سَعْدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ
قَالَ أَبُو دَاوُد حَدَّثَنَاه يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ عَنْ بَقِيَّةَ لَيْسَ فِيهِ أَنَسٌ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ أَبِي عِيسَى السَّيْلَحِينِيُّ عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُصَ

Telah menceritakan kepada kami Ibnul Mushaffa berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dan Abul Mughirah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Shafwan ia berkata; telah menceritakan kepadaku Rasyid bin Sa'd dan 'Abdurrahman bin Jubair dari Anas bin Malik ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika aku dinaikkan ke langit (dimi'rajkan), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, "Wahai Jibril, siapa mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka." Abu Dawud berkata, " Yahya bin Utsman menceritakannya kepada kami dari Baqiyyah, tetapi tidak disebutkan di dalamnya nama Anas. Telah menceritakan kepada kami Isa bin Abu Isa As Sailahini dari Al Mughirah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Mushaffa."

Dalam buku Ayat-ayat larangan dan Perintah DalamAl-Qur’an yang ditulis oleh KH. Qamaruddin Shaleh dkk disebutkan bahwa orang-orang yang melakukan ghibah pada dasarnya telah menzahirkan sesuatu yang buruk yang asalnya tertutup, serta membukan rahasia yang asalnya tersembunyi. Apabila yang diceritakan itu dusta, berarti orang itu telah melakukan dosa dua kali, dosa dusta dan dosa menggunjing. Disamping terlarangnyamelakukan ghibah, seorang muslim wajib pulamenghindarkan diridari mendengarkan ghiobah yang dilakukan oleh orang lain. Jangan pula ia membantu atau mendukung orang yang sedang menggunjing sekalipun umpatannya itu benar. Perbutan seperti itu termasukakhlak yang hina, kurang beriman, dan tidak punya rasa malu. Selayaknya, seorang mukmin memperhatikan Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

“ Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabannya.” (QS.17 al-Isra: 36 )

Juga Firman-nya :

“ Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidakbermanfaat,mereka berpaling daripadanya, dan mereka berkata : Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu,kesejahteraan atas dirimu,kami tidakingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.

Keharusan Bertaubat dari Ghibah

Selanjutnya KH. Qamaruddin dalam buku beliau yang disebutkan diatas bahwa , setelahmelarang ghibah serta perbuatan-perbuatan yang setara dengan itu Allah, Subhanahu Wata’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk bertakwa dan bertaubat kepada-Nya, serta ber-hati-hati agar tidak tgerjerumus kepada hal-hal yang terlarang. Allah Subhanahu Wata’ala Maha Pengampun dan Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya. Orang yang bertaubat diibaratkan seperti anak baru lahir dan bersih dari dosa, betapapun dosa tersebut.
Orang-orang yang taubat dari ghibah berarti menyesali perbuatan serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Orang tersebut patut meminta maaf kepada orang yang pernah dipergunjingkannya . Lebih jauh lagi, disunnahkan pula menyebut kebaikan orang yang pernah dipergunjingkan, yakni dalam pertemuan seperti saat ia menggunjingkannya. Dengan demikian bergantilah rasadengki menjadi ikhlas dan ridha.
( Wallaahu Ta’ala ‘alam )

Sumber bacaan :

1. Al-Qur’an dan terjemahan ( Departemen Agama RI )
2. Ensiklopedi Hadtis CDHK 91 Ver.1.2 Kitab 9 Imam.
3. Ayat-ayat Larangan dan Perintah Dalam Al-Qur’an oleh KH.Qamaruddin dkk.
4. Shahih Riyadhush- Shalihin Imam Nawawi

Diselesaikan, menjelang zhuhur, hari Arba 1 Ramadhan 1431 H/11 Agustus 2010.
Diposkan oleh Abu Farabi al-Banjari di 20.51 0 komentar

Jumat, 06 Agustus 2010

MENDAHULUKAN KEPENTINGAN DIRINYA SENDIRI SEBELUM ORANG LAIN DALAM BERIBADAH


O l e h : Musni Japrie al-Pasery

Pada saat berjama’ah dimasjid, sering dijumpai masing-masing orang pada

enggan untuk memilih atau mengambil tempat di shaf didepan, dan biasanya masing-masing orang mempersilahkan temannya atau orang lain untuk menempati/mengisi shaf tersebut ,yang bersangkutan rela mengalah dan sengaja memilih tempat di shaf bagian belakang.

Kondisi sedemikian ditemui pada hampir setiap masjid dan langgar, dimana sepertinya banyak anggota jama’ah sengaja untuk memilihi tempat dibelakang. Meskipun sebenarnya orang- yang shalat mengambil tempat di shaf bagian depan, mempunyai nilai keutamaan.

Kebanyakan orang, akan memberikan kesempatan atau mempersilahkan kepada mereka-mereka yang dianggap telah berumur lebih tua atau mereka yang dianggap mempunyai status atau yang dihormati. Sehingga yang bersangkutan rela untuk pindah ke shaf belakang, sekedar memberikan tempat kepada mereka yang dianggap perlu dihormati. Padahal di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala tinggi rendahnya derajat seseorang ditentukan oleh ketakwaannya.

Gambaran yang dikemukan tersebut merupakan salah satu bentuk dari begitu banyak kasus yang terjadi hampir pada setiap kesempatan yang berkaitan dengan pelaksanaan atau kepentingan peribadatan, dimana sebagian orang lebih mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Namun ironisnya yang berkaitan dengan kepentingan duniawi malah orang-orang lebih mendahulukan kepentingan pribadinya daripada kepentingan orang lain. Padahal syari’at islam telah menggariskan bahwa dalam urusan duniawi, maka semestinya yang didahulukan adalah kepentingan orang lain daripada kepentingan semestinya. Sedangkan dalam ibadah maka mendahulukan diri sendiri lebih utama.

Berbicara tentang mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah, maka para ulama akhlu fiqih telah menetapkan kaidah/ushul fiqih bahwa :

“ Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah Dibenci. Namun dalam masalah lainnya, disukai. “

Makna kaidah dimaksud adalah bahwa sikap mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya dirinya sendiri yang disebut dengan itsar , sedangkan kebalikannya yang dinamakan atsaroh, bermakna mendahulukan kepentingan dirinya sendiri sebelum orang lain.

Itsar ada dua macam:

Pertama :Itsar dalam perkara duniawi, perkara ini sangat dianjurkan bagi umat islam, dimana setiap orang diperintahkan untuk lebih mendahulukan kepentingan orang lain, daripada kepentinganya sendiri. Dan sikap ini menggambarkan adab dan etika seorang muslim yang berakhlak dalam bermu’amalah atau bersosialisasi ditengah –tengah masyarakat dimana mereka hidup.

K e d u a : Itsar dalam perkara ibadah.

Mendahulukan orang lain dalam perkara ibadah adalah sesuatu yang dibenci, karena masing-masing orang telah diperintahkan untuk mengagungkan Allah Subhanahu Wata’ala. Oleh karenanya jika dia tidak melakukannya dan hanya melimpahkan pada orang lain adalah termasuk tindakan kurang adab kepadaAllah Subhanahu Wata’ala.

Banyak hadits Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam yang dijadikan hujjah yaang berkenaan dengan lebih diutamakannya diri masing-masing dalam beribadah ketimbang orang lain.

Hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhum, Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Jika orang-orang mengetahui pahala yang ada pada azan dan shaf pertama . kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali mengadakan undian , maka pasti mereka mengadakan undian. Jika mereka mengetahui pahala yang ada pada tahjir ( datang awal waktu )), niscaya mereka pada akan berlomba untuk itu.Jika mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat subuh, niscaya mereka pasti mendatanganinya meskipun dengan merangkat”.(shahih)

Hadits yang agung lagi mulia itu mengandung makna bahwa betapa pahala yang diperoleh mereka yang melakukan azan dan yang mendapatkan shaf pertama, sehingga seandainya untuk dapat melakukan azan atau untuk mendapatkan tempat dalam shalat berjama’ah pada shaf pertama mereka rela bila dilakukan undian, dengan harapan akan mendapatkan kesempatan yang pertama.

Hadits diatas juga menggambarkan betapa seseorang dalam mendapatkan pahala yang berlebih harus memperioritaskan dirinya dalam beribadah, dengan tanpa harus mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan yang utama tersebut untuk orang lain.

Selanjutnya dalam hadits Abu Daud, dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: Pada suatu hari, Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam shalat subuh bersama kami, lalu beliau bertanya:

“ Apakah si Fulan hadir?, Mereka (para sahabat menjawab): Tidak. Beliau bertanya lagi: “ apakah si fulan juga hadir “ .Mereka menjawab : Tidak. Beliau berkata :Sesungguhnya “ dua shalat ini ( maksudnya Isya dan shubuh) adalah shalat yang paling berat bagi kaum munafik. Seandainya kalian tahu (pahala) yang terdapat di dalamnya, niscaya kalian pasti mendatanginya meskipun harus dengan merangkak. Sesungguhnya shaf pertama itu laksana shaf para malaikat. Seandainya kalian tahu keutamaannya, niscaya kalian mendatanginya lebih awal. Sesungguhnya shalat seseorang bersama seseorang lainnya (secara berjama’ah-penj) itu lebih baik daripada shalatnya sendirian, dan shalatnya bersama dua orang lainnya itu lebih baik daripada shalatnya bersama satu orang saja, dan (jumlah jama’ah) yang lebih banyak lagi itu lebih disukai oleh Allah” (hasan)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah no.439 dari Abu Huhairah radhyallaahu ‘anhum, dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam,beliau bersabda :

“ Seandainya kalian tahu- atau mereka tahu- pahala yang terdapat dalam shaf depan (pertama), niscaya terjadi undian“ (shahih)

Dua hadits yang dikutip diatas memberikan gambaran yang sangat jelas tentang keutamaan melakukan shalat berjama’ah dengan mengambil shaf dibagian depan atau shaf pertama. Oleh Rasullulah disebutkan sebagai laksana shafnya para malaikat. Disebutkan demikian tentunya karena memiliki keutamaan, dan dikatakan juga oleh Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam seandainya orang-orang tahu nilai keutamaan shalat dengan mengambil tempat di shaf depan niscaya orang-orang datang lebih awal, dan bahkan karena keuatamaan tersebut orang-orang pada berebut, sehingga diperlukan adanya undian untuk mendapatkan tempat siapa yang berhak di shaf terdepan tersebut.

Karenanya berdasarkan hujjah yang dikemukan diatas, maka dalam melaksanakan ibadah shalat berjama’ah seseorang itu seharusnya mendahulukan dirinya sendiri diatas uintuk mendapatkan tempat di shaf terdepan, bukan mengalah demi kepentingan orang lain dengan menyuruhnya menempati shaf, sehingga nilai keutamaan tidak diperolehnya

Berlomba-lomba atau saling mendahului untuk mendapatkan shaf terdepan dalam shalat berjama’ah seperti yang digambarkan dalam hadits tgersebut diatas merupakan salah satu bentuk dari penerapan kaidah/ushul fiqih :

“ Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah Dibenci. Namun dalam masalah lainnya, disukai. “, karena kaidah tersebut merupakan kunci pegangan bahwa mendahulukan kepentingan dirinya sendiri dalam hal ibadah harus diutamakan. Dengan diambilnya kesempatan pertama untuk menempati shaf terdepan berarti ada upaya untuk meraih nilai keutamaan sebagaimana yang dijanjikan bagi mereka-mereka yang menempati shaf di depan dalam shalat berjamaa.

Untuk mendapatkan shaf di depan dalam shalat berjama’ah dimasjid, maka seseorang haruslah datang lebih awal, dimana pada kesempatan tersebut mungkin shaf di bagian depan tersebut masih belum terisi, namun apabila ia datang terlambat sedangkan shaf di depan sudah ditempati orang lain, maka ia tidak diperbolehkan mengambil hak orang lain yang sudah lebih dahulu menempati shaf tersebut.

Mengutip apa yang dikatakan oleh Al-Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf dalam tulisannya di dalam majalah Al-Furqon no..99 Edisi 7 th.ke 9 1431/2010, dibawah judul Kaidah, ada beberapa contoh aktifitas yang berkaitan dengan mendahulukan kepentingan sendiri dalam hal ibadah lebih diutamakan daripada kepentingan orang lain,adalah antara lain :

1. Kalau si Zaid mempunyai air yang hanya cukup untuk wudhu satu orang, sedangkan saat itu dia membutuhkan wudhu, juga temannya yang saat itu sedang bersama dia, maka kewajiban Zaid adalah menggunakan air itu untuk berwudhu bagi dirinya sendiri, dan biarkanlah temannya itu bertayamum. Tidak boleh bagi zaid untuk mempersilahkan temannya berwudhu sedangkan dirinya sendiri bertayamum.

2. Kalau ada seseorang yang hanya mempunyai satu pakaian yang menutupi aurat dan saat itu sedang waktu shalat, sedangkan dia mempunya-I seorang saudara yang tidak memiliki pakaian untuk menutup auratnya. Maka kewajiban yang memiliki pakaian tersebut shalat terlebih dahulu dengan menggunakan pakaiannya, b aruy kemudian nantinya dia pinjamkan kepada saudaranya . Dan tidak b oleh baginya untuk mendahulukan saudaranya tersebut shalat lebih dulu menggunakan pakaiannya. Tidak boleh bagi orang tersebut mendahulukan orang lain dalamperkara ibadah.

3. Kalau ada seseorang yang berada di shaf pertama, maka dia tidak boleh mundur ke shaf kedua untuk mempersilahkan orang lain menempati poosisinya di shaf pertama.

Selain contoh yang dikemukakan diatas, maka banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah sehari-hari yang dilakukan orang tiap-tiap individu, yang seharusnya lebih utama mendahulukan dirinya sendiri, sepertinya misalnya dalam melakukan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Orang yang menyuruh amar ma’ruf nahi munka kepada orang lain, maka ia harus yang pertama-tama terlebih dahulu melakukan perbuatan yang ma’ruf dan meninggalkan perbuatan yang munkar, baru memerintahkan kepada orang lain, sehingga ia dapat dijadikan contoh teladan oleh orang lain. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“ Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (taurat)?. Tidakkah kamu mengerti ? “(QS. Al-Baqarah: 44 )

Apabila seseorang yang menyuruh kepada perbuatan ma’ruf atau melarang dari perbuatan munkar, tetapi yang bersangkutan tidak lebih dahulu melakukan sendiri perbuatan yang baik tersebut maka bahayanya tidak hanya terbatas pada dirinya sendiri, bahkan biasanya terkena kepada orang lain karena ia menjadi teladan yang buruk bagi masyarakat disekelilingnya

Dalih atau alasan yang dijadikan pertimbangan mengapa dalam melakukan ibadah harus mendahulukan diri sendiri, daripada orang lain, tiada lain hanyalah semata untuk melaksanakan atau menggugurkan kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada masing-masing individu manusia untuk beribadah kepada-Nya semata. Selain itu juga untuk mendapatkan keutamaan berupa ganjaran pahala atas perbuatan baiknya dalam memberikan perhatian dan mendahulukan kepentingan terhadap pelaksanaan ibadah.

Sehubungan dengan ketetapan kaidah/ushul fiqih mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah, dibenci , namun dalam masalah lainnya di sukai, maka sudah sepantasnya kita untuk bersegera melaksanakannya, agar kita mendapatkan nilai-nilai keutamaan berupa ganjaran pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Insya Allah kita termasuk dalam kalangan orang yang berusaha untuk mendapatklan berbagai kebaikan dalam islam ( Wallaahu ‘alam bissawaf)

Samarinda, selesai ditulis Jum’ah ba’da ashar tanggal 26 Sya’ban 1431 H/ 7 Agustus 2010 M.

Sumber bacaan : Majalah Al-Furqon No.99 Edisi 7 Th.ke -9 1431/2010

Senin, 02 Agustus 2010

SIKAP MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN DALAM BERMUAMALAH


O l e h : Musni Japrie

Semua orang pasti pernah mengalami betapa sulitnya ketika berjalan kaki akan menyeberang jalan, tidak ada satupun kendaraan yang lalau lalang yang mau memberikan kesempatan kepada kita agar kita dapat menyeberang tanpa rasa was-was. Begitu juga kalau kita misalnya mengendari kendaraan,sedang berada dipertiga jalan ke kanan, kita akan mendapatkan kesulitan karena jarang ada pengendara lain yang mau memberikan kesempatan kepada kita. Contoh lain, apabila menaiki kendaraan umum yang tidak ada lagi tempat duduk yang kosong, jarang sekali orang yang mau mengalah untuk memberikan kesempatan duduk kepada ibu-ibu atau kakek-kakek yang berdiri bergantungan. Penumpang-penumpang lain terutama para anak mudanya cuek saja terhadap kondisi yang ada didepannya, tanpa mau mempedulikan orang-orang yang patut didahulukan.

Dan seperti itulah kondisi yang ditemui dimana saja dan maupun dalam berbagai situasi, nampak secara jelas tidak ada rasa kepedulian seseorang kepada orang lainnya. Rasa belas kasihan kepada sesama telah sirna dimakan zaman, orang-orang sepertinya pada hidup dalam suasana menjunjung tinggi rasa indivdualitis dengan mengabaikan sama sekali rasa soladaritas sesama manusia. Sehingga anekdot: persetan dengan lu , memangnya gue pikiran, merupakan sebuah ikon yang terus berkembang yang menunjukkan ketidak pedulian seseorang kepada orang lain, yang penting adalah memikirkan dirinya sendiri. dan keluarga

Sikap induvidualistis dengan meninggalkan sikap solidaritas dipandang dari sudut syar’i, adalah suatu sikap yang bertentangan dengan islam. Karena para ulama telah menetapkan kaedah/usul fiqh bahwa : “ Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah, dibenci, namun dalam masalah lainnya disukai “.

Di Dalam kaidah fiqih sikap mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri disebut Itsar, sedangkan kebalikannya adalah atsaroh, yang bermakna mendahulukan kepentingan dirinya sendiri sebelum orang lain. Dalam islam itsar maupun atsaroh kadang-kadang dipuji dan kadang-kadang tercela, sesuai dengan kondisi dan situasi dimana ditempatkannya. Apabila dalam kesempatan beribadah maka sikap mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri ( itsar0 adalah suatu perbuatan yang tercela, tetapi sikap atsaroh adalah sikap yang terpuji, karena mendahulukan kepentingan dirinya sendiri sebelum orang lain dalam hal beribadah.

Kadang-kadang sikap atsaroh ini menjadi tercela apabila ia hanya memperhatikan dan lebih mengutamakan kepentingan dirinya dibandingkan untuk kepentingan orang lain dalam duniawi, sebagaimana yang dikemukakan dibagian awal tulisan ini.

Itsar Dalam Perkara Duniawi

Dalam hal bermualah atau berinteraksi sosial seseorang dengan orang lainnya yangb termasuk dalam perkara dunia sikap itsar adalah perkara yang sangat dianjurkan bagi umat islam. Orang yang lebih mengutamakan atau mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan diri merupakan perbuatan terpuji dan akan mendapatkan imbalan pahala di akhirat kelak dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Termasuk disini tentunya adalah mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan perorangan dan dirinya sendiri.

Itsar dalam perkara duniawi sangat disenangi dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an Surah al-Hasyr : 9 :

“ Dan orang-orang yang telah beriman (anshor) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada -orang mahajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang diberikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Dari ayat tersebut secara jelas dinyatakan bahwa mereka-mereka penduduk Madinah yang telah beriman yang disebut kaum anshor sangat mencintai para orang-orang yang berhijrah dari Mekah ke Madinah mengikuti Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam yang disebut sebagai kaum muhajirin, dan mereka kaum anshor tersebut lebih mengutamakan para kaum muhajirin dari diri mereka sendiri dengan memberikan sesuatu kebutuhan yang dihajadkan oleh kaum muhajirin, meskipun sebenarnya kaum anshor juga memerlukannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa kaum anshor sebagai orangh-orang yang beruntung.

Ayat al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 9 yang tersebut diatas merupakan dalil keutamaannya mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri, meski sekalipun ia sendiri juga memerlukannya, namun karena lebih mengutamakan orang lain, ia rela mengorbankan kepentingannya sendiri. Dimana kepentingan orang lain yang lebih didahulukan tersebut adalah yang berkaitan dengan duniawi.

Selain ayat al-Qur’an, hadits Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan keutamaan untuk mendahulukan orang lain diatas kepentingan sendiri dalam hal keduniawi-an .Sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah radhyallaahu ‘anhum berkata :

“ Ada seseorang yang datang kepada Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: Wahai Rasullulah,saya sangat lemah. Maka Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam menanyakan kepada para isterinya, ternyata tidak ada makanan apapun di rumah. Maka beliau shallalahu’alaihi wasallam bersabda : “ Tidak adakah seseorang yang mau menjamu tamu malam ini, semoga Allah merahmatinya”. Maka salah satu sahabat anshor berkata :” Saya wahai Rasullulah “. Lalu dia pulang menemui isterimya dan berkata : “ ini adalah tamunya Rasullulah, jangan sembunyikan makanan apapun”.Isterinya menjawab : “ Kita tidak punya makanan apapun kecuali makanan untuk anak-anak”. Sahabat itupun berkata : “ Jika anak-anak ingin makan malam, maka tidurkanlah mereka, lalu matikan lampu dan malam ini biarlah kita lapar”. Isterinya itu mengerjakan perintah suaminya. Keesokan harinya sahabat anshor tadi datang pada Rasullulah shallalahu ‘alaihio wasallam, lalu beliau bersabda : “ Sesungguhnya Allah heran ( atau tertawa) terhadap perbuatan fulan dan fulanah” Lalu Allah Subhanahu Wa ta’ala menurunkan firman-Nya, yang tertera dalam al-Qur’an Surah al-Hasyr ayat 9 “

Adakah kira-kira orang-orang di zaman sekarang yang berprilaku sebagaimana prilaku sahabat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tersebut, dimana mereka termasuk anak-anak dan isterinya rela menahan lapar, agar tamunya dapat dia berikan makanan.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari tersebut merupakan bukti bahwa dari keutamaan mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri dan keluarganya yang berkenaan dengan hal bersifat keduniawian. Rasullulah memerintahkan kepada umatnya agar berbuat itsar,dan ini merupakan kewajiban bagi kaum muslimin untuk melakukan apa yang telah diperintahkan tersebut. Baik sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan untuk mendahulukan orang lain, akan mempunyai nilai yang besar.Janganlah dilihat besar kecilnya sesuatu perbuatan itu, tetapi lihatlah kepada manfat dan kemaslahatan yang diberikan kepada orang lain tersebut.

Sebagaimana apa yang dicontohkan pada awal tulisan ini, sikap kebanyakan orang-orang dalam berlalu lintas yang samasekali tidak mau pernah memperdulikan kepentingan orang lain, adalah sebagai contoh kecil dari suatu perbuatan konkrit yang perlu dirubah, dengan menghormati dan memberikan kesempatan kepada pejalan kaki, maka itulah salah satu bentuk perbuatan mendahulukan kepentingan lain.

Begitu banyak perbuatan-perbuatan kecil sehari-sehari yang tanpa kita sadari yang kita abaikan padahal sebenarnya adalah sikap mendahulukan kepentingan orang lain, namun karena kita tidak mau merasa rugi oleh perbuatan mendahulukan orang lain dari kepentingan sendiri, maka terabaikanlah kebaikan yang mestinya dapat kita peroleh. Sesungguhnya banyak sekali perbuatan dan sikap kita dalam keseharian yang kelihatanya sepele , namun ternyata di dalamnya mengandung nilai-nilai kebaikan dan pahala. Mengutamakan atau mendahulukan orang lain sebenarnya tidak hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat kecil, tetapi hal-hal lain yang lebih b esar juga patut untuk mendapatkan perhatian. Karenanya kalau ingin memperoleh nilai-nilai tambah berupa pahala, terutama didalam bermuamalah, utamakanlah orang lain terlebih dahulu, sedangkan kepentingan pribadi kita sementara diabaikan sejenak.

Wallaahu Ta’ala ‘alam

Samarinda, Senin 20 Sya’ban 1431 H/ 1 Agustus 2010, ba’da ashar

Tulisan ini sebagian kecil diadopsi dari majalah Al-Furqon No.99 Edisi 7 th.ke 9 1431 H/2010 M