M U K A D D I M A H

M U K A D D I M A H : Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan Barang siapa yang Dia sesatkan , maka tak seorangpun yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang berhak diibadahi melainkan Allah semata, yang tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusannya.

Selasa, 14 September 2010

DENGAN AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR MEWUJUDKAN KEMASLAHATAN


DENGAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR MEWUJUDKAN KEMASLAHATAN .( Bagian kedua )

O l e h : Musni Japrie al-Pasery


Beberapa Dalil Sebagai Dasar Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sebagaimana yang dikemukakan diatas bahwa sesuatu itu dikatakan kebaikan atau kemunkaran tolok ukurnya haruslah berdasarkan ketentuan yang termaktub dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, maka tentunya melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar harus juga didasarkan kepada dalil yang tertera dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Tidaklah seseorang akan berani melangkah melakukan aktifitas dakwahnya atau mengingatkan kepada seseorang tentang perlunya melakukan kebaikan atau menjauhi larangan apabila tidak dikawal dengan dasar hukum yang kuat sebagai patokan dan perintah dari pembuat syari'at yaitu Allah 'Azza wajalla, yakni dalam hal ini adalah al-QAur'an dan as -Sunnah yang memuat begitu banyak dalil-dalih sebagai hujjah.
Begitu banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar, baik yang bersifat langsung dengan menyebutkan kata-kata amar ma’ruf atau nahi munkar, dan ada pula ayat yang tidak secara langsung menyebutkan kata-kata amar ma’ruf atau nahi munkar namun maknanya mengandung hal-hal yang berkaitan dengan amar ma’ruf maupun nahi munkar. Karena perlu diketahui sebenarnya al-qur’an sebagai petunjuk pada hakekatnya seluruhnya merupakan panduan dan tuntunan dalam menuju kebaikan dan meninggalkan segala hal-hal yang buruk dengan segala ikutannya berupa jalan menuju kepada keburukan tersebut.

Beberapa dalil yang tercantum dalam al-Qur'an berupa firman Allah Subhanahu wata'ala an yang mengandung kata-kata amar ma’ruf nahi munkar atau yang sepadan atau serupa dengannya antara lain :

1. Qur’an surah . Al-Qassash (28) ayat : 87 :

وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampai- kan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Dalam kalimat “Dan serulah mereka kepada ( jalan ) Tuhanmu”, merupakan kalimat perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam agar menyeru atau mengajak kepada manusia kepada jalan Allah Subhanahu wata’ala, dimana jalan menuju Allah tidak lain adalah jalan menuju kebaikan .

2. Qur’an surah Al-Maaidah (5) ayat : 2 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُحِلُّواْ شَعَآئِرَ اللّهِ وَلاَ الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلاَ الْهَدْيَ وَلاَ الْقَلآئِدَ وَلا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُواْ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُواْ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah [dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram [jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya], dan binatang-binatang qalaa-id dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya] dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Di dalam ayat tersebut diatas Allah memerintahkan kepada hambanya “ dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berb uat dosa dan pelanggaran “ secara tegas dinyatakan agar hambanya saling tolong menolong dalam hal-hal yang bersifat kebaikan yaitu merupakan bagian dari perbuatan amar ma’ruf dan nahi munkar.

3. Al-Qur’an Surah Al-‘Ashr ( 103) ayat : 3 :

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat 3 surah Al-Ashr tersebut diatas menyebutkan pentingnya untuk saling nasihat menasihati sesama muslim agar tidak termasuk orang yang merugi. Sedangkan nasihat menasihati merupakan salah satu cara beramar ma’ruf dan bernahi munkar kepada sesama hamba Allah.

4.Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. “


5.Al-Qur’an Surah Aali-Imraan (3) ayat 104 :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dalam surah Aali-Imran (3) ayat 104 yang dikutip diatas secara langsung disebutkan perintah kepada segolongan umat islam yang menyuruh kepada golongan lainnya kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, sehingga mereka akan menjadi orang-orang yang beruntung .

6. A-Qur’an Surah Al A’raaf (7)

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُواْ بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُواْ يَفْسُقُونَ

"Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. “

Dari kalimat “melarang dari perbuatan jahat “ tiada lain adalah nahi munkar.

7. Al-Qur’an Surah At-Taubah (9) ayat : 71

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “

Ayat diatas secara tegas menyebutkan tentang menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. “

Ayat diatas juga secara tegas menyebutkan tentang buruknya perbuatan yang tidak melarang tindakan munkar, sehingga lawan dari tidak melarang tindakan munkar itu adalah melarang perbuatan munkar

8. Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 41 “

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

9. Al-Qur’an surah Luqman ayat : 17




يَا الْأُمُورِ بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.


Selain ayat-ayat al-Qur’an yang merupakan dalil untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka banyak pula hadits-hadits yang shahih menyebutkan tentang amar ma’ruf nahi munkar.Hadits- hadits tersesebut antara lain :

1. Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :


حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa'id dan Ibnu Hujr, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al 'Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun."

"Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun."

Hadits tersebut mengandung makna siapa yang beramar ma’ruf mendapatkan pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya. Dan ini merupakan isyarat untuk melakukan amar ma’ruf.

2. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al Khudri radhyallaahu anhum, dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ إِذْ أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

: "Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan." Mereka (para sahabat) berkata; "Wahai Rasulullah, Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami untuk bercakap-cakap." Beliau bersabda: "Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut." Mereka bertanya: "Apa hak jalan itu?" Beliau menjawab: "Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma'ruf nahi munkar."

3. Hadits riwayat Muslim dari Tamim ad-Dari radhyallaahu ‘anhu, ia berkata Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

"Agama itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Nasihat untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka."

4. Hadits riwayat Abu Daud dari Abu Sa’id al-Khudri radhyallaahu ‘anhu. Ia berkata aku mendengar Rasullullah shalalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَهَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَعَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَاسْتَطَاعَ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ وَقَطَعَ هَنَّادٌ بَقِيَّةَ الْحَدِيثِ وَفَّاهُ ابْنُ الْعَلَاءِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ بِلِسَانِهِ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

: "Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran lalu ia mampu mengubahnya dengan tangan, hendaklah ia ubah kemungkaran tersebut dengan tangannya." Hannad kemudian memotong (tidak melanjutkan) sisa hadits tersebut. Kemudian Ibnul 'Ala melengkapinya, "jika ia tidak mampu hendaklah dengan lisannya, jika tidak mampu dengan lisan hendaklah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman."

5. Hadits riwayat At-Tirmidzi dari An Nu’man bin Basyir, dia berkata , Rasullulah shalalahu ‘alaihi wasallam bersabda :


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْمُدْهِنِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِي الْبَحْرِ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَعْلَاهَا لَا نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا فَقَالَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا فَإِنَّا نَنْقُبُهَا مِنْ أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِي فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ;

"Perumpamaan mereka yang menegakkan hukum dan berjalan di atasnya adalah bagaikan suatu kaum yang berada di atas perahu di tengah hamparan lautan yang luas. Sebagian dari mereka bertempat di atasnya dan sebagian yang lain berada di bawah. Mereka yang berada di bawah apabila membutuhkan air, maka mereka akan naik ke atas lalu menimba air sehingga mengganggu mereka yang berada di atas. Maka orang-orang yang berada di atas pun berkata, 'Kami tidak akan membiarkan kalian naik ke atas sehingga kalian menyusahkan kami.' Sedangkan mereka yang berada di bawah juga berkata, 'Kalau begitu, maka kami akan membuat lubang di bawah sehingga memudahkan kami untuk mengambil air.' Maka apabila mereka mencegahnya, niscaya mereka semua akan selamat. Namun bila mereka meninggalkannya, niscaya mereka semua akan tenggelam”

Berkenaan dengan hadits tersebut diatas ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas mengartikannya bahwa dalam hadits diatas Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan tentang satu masyarakat dimana or
ang-orang yang berada dibawah (yang dimaksud adalah orang awam) melakukan kemaksiatan, dan apabila orang-orang lainnya tidak mencegahnya, maka akan binasalah semua.

6. Hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Dzar, Rasuullulah shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda :

سُلَامَى مِنْ ابْنِ آدَمَ صَدَقَةٌ تَسْلِيمُهُ عَلَى مَنْ لَقِيَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُهُ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيُهُ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُهُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ وَبُضْعَةُ أَهْلِهِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ رَكْعَتَانِ مِنْ الضُّحَى قَالَ أَبُو دَاوُد وَحَدِيثُ عَبَّادٍ أَتَمُّ وَلَمْ يَذْكُرْ مُسَدَّدٌ الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ زَادَ فِي حَدِيثِهِ وَقَالَ كَذَا وَكَذَا وَزَادَ ابْنُ مَنِيعٍ فِي حَدِيثِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَدُنَا يَقْضِي شَهْوَتَهُ وَتَكُونُ لَهُ صَدَقَةٌ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ وَضَعَهَا فِي غَيْرِ حِلِّهَا أَلَمْ يَكُنْ يَأْثَمُحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ ح و حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ الْمَعْنَى عَنْ وَاصِلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ
"Setiap pagi dari setiap ruas yang di miliki oleh ibnu Adam terdapat sedekahnya, memberi salam kepada orang yang di jumpainya adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah adalah sedekah, menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah dan mengumpuli (bersenggama) dengan isterinya adalah sedekah, dan itu semua bisa di gantikan dengan dua raka'at shalat Dluha." Abu Daud berkata; "Haditsnya 'Abbad lebih lengkap, namun Musaddad tidak menyebutkan kalimat "Memerintahkan (yang ma'ruf) dan mencegah (dari kemungkaran) ", dalam haditsnya ada sedikit tambahan, beliau bersabda seperti ini dan ini, Ibnu Mani' menambahkan dalam haditsnya; para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami memenuhi tuntutan syahwatnya (mengumpuli isterinya) mendapatkan sedekah?" beliau menjawab; "Bagaimana pendapatmu jika dia meletakkan syahwatnya bukan pada yang di halalkannya, apakah dia mendapatkan dosa?"


7. Hadits riwayat At-Tirmidzi dari Abu Bakar Ash-Sidiq, ia berkata :

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ نَحْوَ هَذَا الْحَدِيثِ مَرْفُوعًا وَرَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ إِسْمَعِيلَ عَنْ قَيْسٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ قَوْ
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ أَنَّهُ قَالَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الْآيَةَ
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ }
وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا ظَالِمًا فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ
لَهُ وَلَمْ يَرْفَعُوهُ

"Hai manusia, sesungguhnya kalian sering membaca ayat ini Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk QS Al Ma`idah: 105, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya jika manusia melihat orang yang berbuat dzalim, namun mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah meratakan siksaan kepada mereka semuanya."




حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ ح و حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ الْمَعْنَى عَنْ إِسْمَعِيلَ عَنْ قَيْسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ
بَعْدَ أَنْ حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الْآيَةَ وَتَضَعُونَهَا عَلَى غَيْرِ مَوَاضِعِهَا
{ عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ }
قَالَ عَنْ خَالِدٍ وَإِنَّا سَمِعْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ و قَالَ عَمْرٌو عَنْ هُشَيْمٍ وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَرَوَاهُ كَمَا قَالَ خَالِدٌ أَبُو أُسَامَةَ وَجَمَاعَةٌ وَقَالَ شُعْبَةُ فِيهِ مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي هُمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُهُ

“ Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah dari Khalid. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun berkata, telah mengabarkan kepada kami Husyaim secara makna, dari Isma'il dari Qais ia berkata, "Setelah mengucapkan pujian dan mengagungkan-Nya, Abu Bakar berkata, "Wahai manusia sekalian, kalian telah membaca ayat ini, namun kalian tidak meletakkannya sebagaimana mestinya: '(.. jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapatkan petunjuk..) ' -Al Maidah: 105-. Wahb menyebutkan dari Khalid, (Abu Bakar berkata;) "Kami mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang melihat kezhaliman kemudian tidak mencegah dengan tangannya, maka sangat dikawatirkan Allah akan menimpakan siksa kepada mereka secara merata." Amru menyebutkan dari Husyaim, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah kemaksiatan yang dilakukan pada suatu kaum, kemudian mereka mampu mencegahnya tetapi tidak mau mencegah, melainkan Allah akan meratakan siksa kepada mereka." Abu Dawud berkata; " Abu Usamah dan sekelompok orang juga meriwayatkannya sebagaimana yang dikatakan oleh Khalid". sedangkan Syu'bah meriwayatkan dengan lafadz di dalamnya, "Tidaklah suatu kemaksiatan dilakukan pada suatu kaum, sementara jumlah mereka lebih banyak dari .

Kewajiban Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Amar ma’ruf nahi munkar merupakan bagian penting dari agama, malah sebenarnya inti dari agama sebenarnya adalah amar ma’ruf nahi munkar. Mengingat sangat pentingnya amar ma’ruf nahi munkar tersebut banyak para ulama mengupasnya secara lengkap dalam berbagai tulisan. Karena Allah Subhanau Wata’ala telah mewajibkan kepada umat islam untuk menyeru kepada kebajikan,menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, sesuai dengan firmannya dalam Al-Qur’an Surah Aali-Imraan (3) ayat 104 :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah dalam Tazkiyatun Nafs ( Mensucikan Jiwa dan Menjernihkan Hati dengan Akhlak yang Mulia ) mengemukakan bahwa Allah Ta’ala menerangkan bahwa umat ini (Islam) adalah umat terbaik untuk manusia. Merekalah yang lebih bermanfaat untuk umat ini dan paling banyak berbuat baik terhadap mereka, karena mereka berbuat maksimal dalam menyeru manusia berbuat kebaikan dan melarang mereka dari kemunkaran.

Mengenai kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar ini para ulama menyebutkannya sebagai fardu kifayah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam buku Beliau Tazkiyatun Nafs menyebutkan : “ Kewajiban
amar ma’ruf nahi munkar, bagi setiap orang tidak bersifat fardhu ain, tetapi fardhu kifayah, yakni jika ada yang telah melaksanakannya maka yang lain tidak berdosa.

Imam Al-Ghazali rahimahullaah dalam kitab beliau Ihya Ulumiddin berkata : Didalam al-Qur’an ( Surah Ali Imran ayat : 104 ) terdapat penjelasan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu kifayah bukan fardu ‘ain dan bahwa apabila ada golongan satu golongan telah melaksanakannya, maka gugur kewajiban itu dari golongan yang lain. Karena Allah tidak berfirman : “ Hendaklah setiap kamu memerintah yang ma’ruf, tetapi Dia berfirman: “ Hendaklah diantara kamu segolongan umat “. Jadi manakala seseorang atau sekelompok orang telah melaksanakan kewajiban ini, maka gugur dosa dari yang lain dan keberuntungan tertentu bagi orang-orang yang melaksanakannya secara langsung dan kalau makhluk semuanya duduk tidak melaksanakan kewajiban ini, maka dosa mereka semua orang yang mampu melaksanakannya tidak boleh tidak.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullaah dalam buku beliau Minhajul Qashidin menyebutkan amar ma’ruf nahi munkar adalah fardu kifayah dengan redaksi yang sama dengan apa yang disebutkan oleh Imam Al-ghazali. Oleh Imam Ibnu Qudamah disebutkan pula bahwa jika sudah ada yang melaksanakan nya, berarti yang lain sudah terbebas dari tugas tersebut. Namun ada keberuntungan bagi orang-orang yang melaksanakannya.

Imam Nawawi rahimahullaah dalam Syarah Shahih Muslim, sebagaimana yang dikutip oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, berkata : “ Menyuruh yang ama ma’ruf dan menecegah dari yang munkar hukumya adalah fardu kifayah “ . Selain itu dikutip juga keterangan dari Abu Bakar al- Jashshah rfahimahullaah : bahwa wajib untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan amarf ma’ruf nahi munkar hukumnya adalah fardhu kifayah. Apabuila sebagian oramng sudah melaksanakannya maka kewajibannya gugur bagi yang lainnya.

Meskipun telah ditetapkannya amar ma’ruf nahi munkar sebagai fardhu kifayah, bukan berarti tertutupnya peluang berubahnya amar ma’ruf nahi munkar tersebut dari fardhu kifayah menjadi fardu ain, yaitu kewajiban bagi setiap orang muslim. Dimana perubahan tersebut diakibatkan adanya keadaan keadaan tertentun yang menghendakinya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ustadz Yasid bin Abdul Qadir Jawas:b ahwa ada beberapa keadaan di mana me;lakukan amar ma’ruf nahi munkar yang hukum asalnya fardhu kifayah berubah fardhu ain bagi setiap muslim, sesuai dengan yang dikatakan oleh Iman an-Nawawi rahimahullaah : “ Sesungguhnya amar ma’ruf nahi munkar adalah fardu kifayah kemudian terkadang menjadi fardhu ‘ain jika pada suatu keadaan dan kondisi tertentu tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya.
Disebutkan pula oleh Imam An- Nawawi rahimahullaah : “ Kemudian ia ( amar ma’ruf nahi munkar ) menjadi Fardu ain, jika tidak mungkin dihilangklan oleh dirinya sendiri, seperti orang (suami) yang melihat isterinya, atau anaknya , atau hamba sahayanya yang berada dalam kemungkaran atau menyepelekan perbuatan yang ma’ruf.

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas juga mengutip dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah , beliau berkata : “ (amar ma’ruf nahi munkar)
berubah menjadi fardu ‘ain atasorang yang sanggup melakukan nya dimana orang lain tidak sanggup melakukannya .”

Sedangkan Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullaah yang dikutip oleh Ustadz Yazid bin AbdulQadir Jawas berpendapat bahwa amar ma’ruf nahi munkar menjadi fardhu ain ketika terjadi perubahan keadaan, dimana beliau berkata : “ Maka ketika sedikitnya para da’i, ketika banyaknya kemungkaran, dan ketika kebodohan telah berkuasa seperti keadaan kita sekarang ini maka dakwah menjadi fardhu’ain atas setiap orang sesuai dengan kemampuannya.

Amar ma’ruf nahi munkar dilakukan bukan tergantung kepada besar atau kecilnya kebaikan yang dianjurkan atau kemudharatan yang dicegah, tetapi harus dilihat kepada kepentingannya. Sekecil apapun yang namanya kebaikan pasti akan memberkin manfaat yang dapat dirasakan oleh manusia baik secara langsung maupun tidak langsung, apalagi yang sifatnya lebih besar, tentu manfaatnya pun besar pula bagi kemaslahatan umat manusia.Begitu pula halnya dengan mencegah kemunkaran, tidak dilihat kepada besar atau kecilnya kemunkaran yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok, karena sekecil apapun kemunkaran itu pasti akan berujung kepada kemudharan bagi manusia, baik dia secara langsung ataupun tidak langsung. Meskipun kelihatannya kemunkaran yang terjadi itu bersifat kemunkaran kecil tetapi apabila dia dibiarkan, maka akan berkembang membesar. Maka dampaknya pun akan sangat berisiko.Sehingga kemunkaran sejak dini harus dicegah. Lagi-lagi kemunkaran yang berhubungan dengan hak-hak Allah Subhanahu Wata’ala, janganlah dilihat atas besar kecilnya kemunkaran yang diperbuat, tetapi harus dilihat siapa yang dimaksiati. Sekecil apapun kemunkaran yang berkaitan dengan hak-hak Allah Subhananu Wata’ala maka ia tetap merupakan sebuah kemaksiatan yang akan mengakibatkan balasan hukuman yang setimpal karena dosa-dosanya.

Sejalan dengan kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar baik ia sebagai fardhu kifayah maupun sebagai fardhu ‘ain, ada sebuah hadits yang menyatakan tentang bagaimana penanganan sebuah kemunkaran yang dilakukan berdasarkan kemampuan dan kekuatan yang melakukan pencegahan tersebut.


Hadits riwayat Abu Daud dari Abu Sa’id al-Khudri radhyallaahu ‘anhu. Ia berkata aku mendengar Rasullullah shalalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَهَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَعَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَاسْتَطَاعَ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ وَقَطَعَ هَنَّادٌ بَقِيَّةَ الْحَدِيثِ وَفَّاهُ ابْنُ الْعَلَاءِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ بِلِسَانِهِ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

: "Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran lalu ia mampu mengubahnya dengan tangan, hendaklah ia ubah kemungkaran tersebut dengan tangannya." Hannad kemudian memotong (tidak melanjutkan) sisa hadits tersebut. Kemudian Ibnul 'Ala melengkapinya, "jika ia tidak mampu hendaklah dengan lisannya, jika tidak mampu dengan lisan hendaklah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman."

1. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar di Lingkungan Keluarga Dekat

Amar Ma’ruf nahi mungkar dilingkungan keluarga dekat merupakan tanggung jawab mutlak orang tua (kepala keluarga) sebagai fardhu ‘ain sehingga dapat diciptakannya kemaslahatan dan dijauhkannya kemudharatan bagi keluarganya. Perintah dilaksanakannya amar ma’ruf nahi munkar sebagai fardu ‘ain, sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam al-Qur’an surah At-Thahrim ( 66) ayat 6 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Berdasarkan ayat tersebut kepada seluruh orang-orang mukmin telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala , tidak saja memelihara diri sendiri dari api neraka tetapi juga berkewajiban memelihara keluarganya dari api neraka dengan cara menyuruh, memberikan peringatan dan menasihati seluruh keluarga untuk melakukan berbagai perbuatan yang mengan kebaikan dalam rangka pendekatan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, serta menjauhkan segala perbuatan-perbuatan mungkar yang dilarang. Sebagai seorang yang beriman dan sekaligus bertindak selaku kepala keluarga, maka ia dituntut tanggung jawab secara pribadi melakukan amar ma’ruf nahi munkar bagi dirinya sendiri, kemudian untuk keluarga yang yang berada dalam tanggungannya serta keluarga lainnya yang terdekat.

Dalam al-Qur’an surah Thahaa ( 29 ) ayat 132 Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan agar, setiap orang menyuruh keluarganya mengerjakan shalat :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Ayat tersebut secara tegas menetapkan agar kepada setiap orang-orang beriman memerintahkan keluarganya mendiri shalat sebagai bentuk pengabdian dan pengakuan seorang hamba kepada Sang Maha Penciptanya, dan selebihnya adalah bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar.

Berlandaskan kepada dua ayat al-Qur’an tersebut yang lebih dilengkapi lagi dengan hadits riwayat Abu Daud yang telah disebutkan diatas,maka kepada setiap orang yang mempunyai kewenangan fardhu ‘ain dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar dilingkungan keluarga/kerabat dekatnya, seperti anak, saudara,isteri, orang tua, suami wajib di melakukan tindakan fisik. Sebagai contoh apabila menemukan anak atau saudara yang meminum minuman keras maka boleh dilakukan tindakan fisik seperti memecahkan botol ninuman keras tersebut dan membuangnya,bahkan kalau perlu memukulnya sebagai tindakan hukuman. Tentunya tindakan fisik itu sebelumnya telah didahului dengan pemberian nasihat, namun bila tidak diindahkan barulah dilakukan tidakan yang bersifat fisik. Sehingga keluarga terselamatkan dari neraka.

Sebelum melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada pihak lain ( dalam hal ini seluruh keluarga ) maka terlebih dahulu sipelaku amar ma’ruf nahi munkar yang telah mendahului dibanding yang lainnya dalam melakukan segala bentuk kebaikan dan menjauhi setiap hal-hal yang munkar, sekecil apapun kemunkaran tersebut. Sehingga yang bersangkutan dapat dijadikan contoh teladan oleh yang lainya.

Peranan orang tua dalam ber-amar ma’ruf dan nahi munkar di dalam keluarga atau rumah tangga memegang kunci dalam diraihnya kemaslahatan dan terhindarkannya keluarga dari segala bentuk kemudharatan. Orang tua sebagai figur ditengah keluarga sejak dini sudah harus membangun, mengembangkan dan membina akhlak seluruh anggota keluarganya. Kemudian mengarahakan, menggerakkan dan mengawasi bagaimana anggota keluarganya melakukan segala hal yang mengandung nilai-nilai keb aikan serta menjauhi segala halyang dilarang.

Melakukan amar ma’ruf nahi munkar bagi anggota keluarga terutama dilakukan dengan memberikan ilmu yang bermanfaat dengan menomor satukan pendidikan agama, kemudian barulah diperintahkan untuk menuntut ilmu dunia. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang telah lumrah terjadi sekarang ini, dimana pendidikan agama bagi anggota keluarganya dinomor duakan dan tidak mendapatkan perhatian. Sehingga setelah beranjak dewasa wajarlah kalau anggota keluarganya tidak atau kurang memiliki dasar-darar keagamaan sesuai dengan tuntunan al-Qaur’an dan as-Sunnah.

Perlu mendapat perhatian penting, bahwa apabila ditemui adanya suatu kemunkaran didalam rumah tangga atau keluarga terdekat wajib untuk dihindarkan menggunakan kaidah hanya sekedar pengingkaran dalam hati saja, tetapi harus lah digunakan menthode secara lisan dalam bentuk pemberian nasihat, arahan dan petunjuk yang diikuti dengan langkah penindakan dengan fisik berdasarkan kekuasaan dan hak serta tanggung yang ada selaku orang tua. Karena sikap membiarkan terjadinya kemunkaran serta hanya mengingkarinya dengan hati, merupakan gambaran selemah-lemahnya iman. Lebih jauh lagi merupakan sebuah dosa selaku orang tua yang akan dimintakan pertanggungan jawabnya kelak dikemudian hari oleh Allah Subhanahu Wata’ala.


Mengingat setiap individu mukmin adalah bagian dari anggota masyarakat muslim dalam skala luas, maka berarti setiap amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan oleh masing-masing individu muslim di lingkungan keluarganya, merupakan sumbangan yang sangat penting dan strategis dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar ditengah-tengah masyarakat muslim. Yang semuanya akan bermuara pada terciptanya kemaslahatan dan dijauhkannya segala bentuk kemungkaran ditengah-tengah masyarakat yang ujung-ujungnya akan diperolehlah ridha Allah Ta’ala.

Wallaahu Ta’ala ‘alam
( Bersambung pada Bag. Ketiga)

Sumber bacaan “
1.Al-Qur’an dan terjemahan .
2.Hadits kitab 9 Imam CDHK 91 Ver.1.2 Lidwa Pusaka.
3. Ihya Ulumiddin, Imam A-Ghazali.
4.Tazkiyatun Nafas .Szyaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
5.Riyadhus- Shalihin, Imam Nawawi
6.Tanbihul Ghafilin ,Ibnu Qudamah.
7.Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an, K.H Qomarudin
8.AmarMa’ruf Nahi Munkar Menurut Ahlus Sunnah wa Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Selesai ditulis , hari Arba, ba’da shubuh, 6 Syawal 1431 H/15 September 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar