M U K A D D I M A H

M U K A D D I M A H : Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, dan meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan Barang siapa yang Dia sesatkan , maka tak seorangpun yang mampu memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang berhak diibadahi melainkan Allah semata, yang tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusannya.

Rabu, 28 Oktober 2020

RINDU KEPADA RASUL


RINDU KEPADA RASUL
28-10-2020
Puisi cetusan jiwa mengenang kelahiran Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam

By : Musni Japrie

Yaa Nabi Yaa Rasulullah.....

Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam
Engkau pembawa cahaya bagi gelapnya hati manusia
Engkau kekasih Allah
Engkaulah cahaya hati manusia
Engkau menunjukkan jalan 
Dengan sunnahmu
Engkau menuntun umat menjauh dari jalan sesat

Yaa Nabi yaa Rasulullah.....

Engkaulah surya yang menyinari kelamnya hati 
Engkaulah purnama penerang gelapnya jiwa 
Karena kecintaanmu kepada umatmu
Engkau  selamatkan mereka dari kekufuran
Engkau telah mengangkat  mereka 
Yang terbenam dalam lumpur kemusyrikan
Tenggelam dalam penyembahan berhala

Yaa Nabi yaa Rasulullah..

Meski keberadaan kami jauh terpisah oleh zaman dengan engkau
Namun kami merasa dekat 
Engkau selalu di hati kami
Cahaya yang kau pancarkan berabad abad lampau
Telah pula sampai menerangi kami
Cahaya yang tertanam dalam jiwa kami
Menerangi hidup kami untuk menggapai 
keridhaan Allah
Dengan cahayamu kami berjalan diatas sunnahmu
Sunnah yang menuntun kami dalam ketaqwaan 

Yaa Nabi yaa Rasulullah..... 
Sesungguhnya hati kami sejak awal
terpaut kepada engkau
Kami mencintaimu melebihi cinta kami dari segala
Karena kecintaan kami kepadamu
Kami ikuti panduan sunnahmu
Kami berlapang dada menta'ati segala perintahmu
Yaa Nabi kami berharap kelak dapat bersamamu di surga firdaus
Kami merindukanmu ya Rasul
Selalu.... 

Jln.Jakarta Perum Korpri, 12 Rabiul Awal 1442 H / 28 Oktober 2020

CINTA RASUL


CINTA RASUL
28-10-2020
CINTA RASULULLAH

Mengenang kelahiran Rasulullah shalalallahu'alaihi wa sallam

by : Musni Japrie

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad Rasulullah 
Nabi terakhir yang telah datang
Membawa suluh penerang 
Dalam gelap kelamnya kesyirikan 
Kaum jahiliyah penghalang dakwah tauhid
Muhammad Rasulullah pembawa pelita
Menuntun umat agar tidak tersesat jalan
Al-Qur'an dan as-Sunnah warisan agung 
Menuntun umat dalam keta'atan
Menjauhkan umat dari larangan Nya

Jejak yang beliau tinggalkan 
Jadi ikutan kita  umat yang mencintainya
Mencintai nabi shalallahu'alaihi wa salam
Dengan mengikuti sunnah Nya
Mempedomani sunnahnya dalam beragama
Bukti kecintaan kita kepada nabi Muhammad shalallahu'alaihi wa salam
Penghulu seluruh nabi dan nabi penutup. 
Tidak akan ada lagi nabi setelahnya. 
Sesungguhnya kita cinta Rasul.

Loa Bakung, Arba ba'da Isya 12 Rabiul Awal 1442 H / 28 Oktober 2020

Selasa, 27 Oktober 2020

12 RABIUL AWAL

12 RABIUL AWAL

Mengenang tgl hari kelahiran, hijrah dan wafatnya nabi Muhammad Rasullullah shalallahu'alaihi wa salam

By : Musni Japrie

Di negeri yang diwarnai gelapnya moral penghuninya karena kesyirikan
Di tanggqal 12 Rabiul Awal tahun gajah
Bertepatan hari Senin di Makah tanah haram
Lahirlah ke dunia seorang putera pembawa cahaya iman
Muhammad sang pencerah penerang kegelapan masyarakat jahilah
Muhammad diangkat oleh Allah ta'ala sebagai Nabi dan Rasulullah
Diutus untuk menyempurnakan iman
Menegakkan tauhid mengesakan Allah  
Meniadakan penyembahan kepada selain Allah
Mencerdaskan kehidupan masyarakat jahilyah 
Menjauhkan kesyirikan penyembahan berhala

Ajakan da'wah dan perjuangan Nabi Muhammad Rasulullah 
Menegakkan tauhid di negerinya
Ditantang dan kaum sendiri
Rasulullah hijrah ke Madinah meninggalkan negeri sendiri
12 Rabiul Awal tahun 1 hijriah
 Rasulullah di sambut sahabat anshar
Membangun masjid pertama di Quba
Rasulullah memimpin sahabat-sahabat
Kaum muhajirin dan anshar
Berjuang menegakkan bendera Islam
Mendakwahkan tauhid mengesakan Allah
Merebut Makah dari kaum musyrikin

RASULULLAH SANG PENCERAH

Rasulullah Sang Pencerah

By  : Musni Japrie

Berabad abad yang lampau kegelapan
Menyelimuti bumi dalam waktu panjang
Menyesatkan manusia tanpa cahaya
Tenggelam dalam kejahilan
Terkungkung oleh nafsu tanpa batas
Hanyut dalam kemudharatan 
Lalu larut dilumpur kemaksiatan
Bergelimang dalam kesyirikan
Tersesat jalan menuju kehancuran

Allah yang pengasih dan penyayang
Tidak membiarkan manusia berlarut lupa diri
Datanglah Rasulullah sang pencerah
Nabi yang mulia Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam
Utusan Allah azza wajalla membawa lentera cahaya penerang
Menuntun umat manusia dari kesesatan
Menunjukkan jalan yang lurus

Nabi Muhammad Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam
Manusia agung yang mulia kecintaan umat
Nabi yang mengajak kepada tauhid mengesakan Allah
Nabi Allah yang meniadakan kesyirikan
Sungguh Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam adalah penyelamat umat
Terjauhkan dari siksa neraka membara
Rasulullah sang pencerah
Nabi Allah karena kecintaannya kepada umat
Tidaklah membiarkan umatnya dalam kemudharatan
Rasulullah menunjukkan sunnahnya tentang kewajiban untuk bertakwa
Sungguh Rasulullah telah menjadi
 cahaya dan pencerah di muka bumi ini. 

Ujung Kota Tepian, ba'da Isya 11 Rabiul Awal 1442 / 27 Oktober 2020



Senin, 26 Oktober 2020

MUHASABAH DIRI


MUHASABAH DIRI

Dalam kesendirian dipagut sepi
Merenungi hari-hari berlalu
Seuntai kalimat emas 
Menggelayut di benak
" Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab"
Bertanya pada diri sendiri
Seberapa jauh sudah engkau tapakkan kakimu wahai diriku
Di jalan yang banyak likunya
Jalan menuju ketaatan
Atau engkau memilih jalan yang melalaikan
LSudah berapa banyak engkau mudharatkan dirimu
Berapa panjang jalan kelalaian yang engkau lakukan
Sudahkah engkau membuat kemaslahatan dalam hidupmu
Berapa banyak kebaikan yang engkau kerjakan
Kebaikan untuk menghapus buah keburukanmu
Tegakkanlah mizan untuk menimbang Seberapa banyak pahala buah kebaikan
Lalu timbanglah ia dengan dosa buah keburukanmu 
Yang engkau ukir dalam sejarah perjalanan panjang mu
Mana yang lebih berat? 
Pahala yang maniskah atau pahitnya dosa yang banyak
Duhai diriku...
Tidakkah kau lupa telah menggunungnya timbunan dosa
Dosa olah kelalaianmu
Tidakkah kau lupa betapa sedikitnya ketaatan yang ditegakkan
Ketaatan yang diperintahkan Rabb mu

Diujung sisa-sisa harimu wahai diri
Bersegeralah mencari dan meraih ampunan dari Nya
Dihari-hari penantianmu tambahkan ketaatan kepada Nya
Kejar dan raihlah keridhaan Nya
Isilah siangmu dengan kemaslahan untuk dirimu
Penuhi malam-malammu dengan sujud kepada Nya
Bercinta memeluk kasih dan rahmat Nya
Lantunkan permintaan ampun maafmu kepada Nya 
Karena engkau telah banyak lalainya
Berharaplah untuk memperoleh nikmat yang paling nikmat
Melihat wajah Tuhan mu kelak di surga Nya

Loa Bakung ,menjelang ashar, 10 Rabiul Awal 1442 H/ 27 Oktober 2020
By : Musni Japrie

Minggu, 25 Oktober 2020

RINDUKU YANG TIDAK PERNAH PUPUS

Kerinduan Yang  Tak Pernah Pupus
31/12/2019
Sepi merajai hari-hari
Menyusupi belantara gersang
Dedaunan mengering kerontang
Berderai disapu kelam kelabu 
Dalam bayang bayang masa lalu
Membisu dalam dekapan kenangan

Malam malam yang sepi seperti ini 
Mahligai sendu kehilangan bias cahaya
Bersendiri menyisiri malam 
Bersama nada sumbang seruling senja
Tiada canda yang menjadi kawan
Seperti dulu bercanda riang

Dia yang dipuja jauh pergi tidak terjangkau
Kupeluk bayangan hayal
Desah nafas hangatmu di sisiku
Masih hangat terasa 
Dinding dinding kamar jadi saksi bisu
Menyimpan rahasia cerita episode
Perjalanan panjang tentang kisah cinta

Kerinduan akan mentari pagi 
Dengan tetesan embun dipelataran cinta
Melintaskan kisah sepasang merpati 
Menyeruak menjadi sebuah lukisan indah
Membentangkan hamparan pelangi
Tenggelam dalam kemuning senja
Dirembang petang dalam kerinduan yang tak pernah pupus. 

Tepian mahakam,menjelang tutup tahun 2019
By :  Musni japrie

SELAMAT JALAN CINTAKU

SELAMAT JALAN CINTAKU

By : Musni Japrie 

Rembang petang menjemput senja 
B ayang-bayang terhapus sudah 
Selendang pelangi dikaki langit melepas petang 
Rerumputan di padang hijau berkerudung malam 

Tirai panggung telah diturunkan 
Usailah sudah cerita panjang perjalanan cinta kita berdua
Dentangan tangga nada melengking tinggi memutuskan dawai cinta 
Pupuslah symponi rindu kita

Engkau telah pergi jauh dariku
Jauh takkan terjangkau
Pergi kebalik malam tiada ujung
Kau pergi membawa cintaku 
Meninggalkan duka dan pilu 
Meski engkau tidak lagi disisiku
Namun desah nafas dan senyum dibibirmu
Tak akan lepas dari ingatanku
Selamat jalan bidadariku
Wajah dan cintamu abadi di hatiku

Di ujung kota, ba'da Isya di awal Januari 2020

By : Musni Japrie

PUISI UNTUK JUITA HATI YANG PERGI

PUISI UTK JUITA HATI
07/06/2020
PUISI UNTUK JUITA HATI YG TELAH PERGI

Enam purnama di pagi hari yg sama dengan hari ini
Engkau pergi dari ku untuk tidak kembali lagi
Engkau pergi tanpa pamit menuju Illahi
Tinggallah aku sendiri 
Menanggung rindu tidak bertepi
Kini aku bernyanyi sendiri
Bermimpi dalam tidurku tentang cinta sejati
Tidurlah dalam istirahat panjang mu juita hati
Doaku senantiasa untukmu tidak henti

Jum'at ba''da subuh saat mengenang perginya isteri tercinta,

Sabtu, 24 Oktober 2020

TAK MAU SENDIRI LAGI

TAK  SENDIRI LAGI
By :  Musni Japrie
Puisi untuk seseorang

Angin malam merayap di malam sepi
Sesepinya hati ini
Dingin sedingin hati yang di tinggal pergi
Rapuh hati ini menanggung sepi
Tanpa air mata menangisi diri
Menanggung beban rindu tanpa tepi

Haruskah aku terus begini.
Menyanyikan bait bait tanpa iringan melodi
Bernyanyi tentang sunyinya hati ini
Tak sanggup rasanya diri ini
Terus menyendiri
Hidup tanpa cinta di hati
Berlari mengejar mimpi

Embun pagi menyiramkan semerbak wangi
Sekuntum bunga juita hati
Menyanyi tentang cinta penuh arti
Akan kupetik dia lalu kutanam disanubari
Kusiram setiap pagi
Dengan gairah cinta yang kembali bersemi
Aku tak mau sendiri lagi 

Diujung kota, 11 Juni 2020

CINTAKU BERSEMI LAGI

CINTAKU BERSEMI LAGI

Puisi untuk seorang yang jauh disana

by : Abu  Farabi al Banjari

Kemarau  lalulah sudah 
Tetesan hujan membasahi persada
Ranting kerontang mulai bersemi
Kuncup bebungaan menyeruak menyebarkan wangi
Matahari pagi hangat tidak lagi menyengat
Kicau burung bercanda merdu

Kemarau sudah berlalu
Bulir embun pagi diremputan
Bagaikan hamparan perak bercahaya
Begitulah pula dengan taman  dihatiku 
yang lama  gersang tidak berbunga
Kini kembali bersemi tersentuh rasa

Tidak kubiarkan diri larut dalam duka
Karena kehilangan cinta
Tidak akan kubiarkan sukmaku merana
Karena layunya bunga yang dipuja
Akan kusemai kembali benih-benih cinta
Kusiram sepenuh jiwa

Kini cintaku bersemi lagi dalam jiwa
Hapuslah duka lara 
Tiada lagi tangis sepi kerinduan
Semua larut dalam cinta baru yang
 membara
Kurajut keping-keping hati 
Dalam episode yang baru tanpa 
Melupakan cerita lama

Jalan Jakarta
Jum'at ba'da i'sya,20 Syawal 1441 H/
                                 12 Juni 2020 M

NYANYI SUNYI

NYANYI SUNYI

Terjebak di belantara sunyi
Pepohan tua kering kerontang disapu kemarau
Burung enggan bercanda
Terlarut dalam sepi
Yang ada semilir angin kering 
Berbisik nada sumbang
Tentang nyanyi sunyi 
Ditingkah seruling anak gembala

Di malam yang tidak bertepi
Melintas bayang-bayang cerita lama
Berhayal dalam mimpi-mimpi yang tidak selesai
Terbelenggu dalam kenangan lama
Cinta yang sampai diujung cerita
Terkubur di pusara cinta
Yang tersisa sejuta rasa cintamu 
Cintamu yang tak pernah pupus
Menggores di sanubari

Meski sepi selalu mengakrabkan diri
Namun hari-hari tidak pernah henti
Menyanyikan kidung sunyi tanpa bait
Dan puisi tempat melukiskan hayal

Tepian Mahakam, 12 Dzulqa'dah 1441 H/ 4 Juli 2020
By. Abu Farabi al Banjari

ADAKAH CINTA DI HATIMU UNTUKKU

ADAKAH CINTA UNTUKKU DI HATIMU

Untuk seseorang dalam kerinduan

Oleh : Musni Japrie

Di saat kita tak lagi bisa berbicara, 
terlebih bertatap muka,
biarlah kata yang mewakilkannya.
Ini adalah senandung rinduku
tentang cintaku yang berusaha menembus
ruang dan waktu.

Wahai cintaku..... 

Membayangkan masa indah
begitu menyenangkan.
Menjalani masa depan, bukan sekadar
harapan.
Tapi ingin kuwujudkan dalam sebuah
kenyataan.

Cintaku......

Masih adakah tersedia ruang di hatimu
Wadah menitipkan cintaku
Untukmu yang kurindukan selalu
Masih adakah di sanubarimu
Rasa rindumu untukku

Cintaku....

Tatkala kegalauan menghantui perasaanku
Ingin rasanya kuceritakan segalanya kepadamu
Meski hanya menitipkannya diangin yang lalu
Kubisikkan rangkaian kata cinta untukmu
Rasa yang mengharu biru di kalbu
Rasa yang tak tahan untuk dipendam

Cintaku....
Kupahat namamu di pualam kalbu
Namamu indah yang selalu kusebut dalam setiap mimpi
Mimpi bersamamu bergandengan tangan
Berlari kecil mendaki bukit berbunga
Mungkinkah mimpi-mimpi indah ini
Terwujud dalam alam nyata
Atau akan tetap ada dalam setiap mimpi belaka

Ujung kota tepian Mahakam
Ahad ba'da dzuhur,7 dzulqa'dah 1441
28 Juni 2020

CINTAKU TIADA HENTI

CINTA YANG TIADA PERNAH HENTI

Wahai Engkau yang kurindukan selalu
Dalam setiap desahan nafasku 
Tiadalah yang kucintai sepenuh hati
Kecuali hanya Engkau
Dalam setiap getaran sanubari
Engkau selalu yang kurindukan
Dipualam taman hatiku
Kupahatkan namaMu yang indah
Terpateri dalam setiap ingatan akan namaMu
Dalam setiap lisanku nama Engkau selalu kulafadzkan
Dalam setiap keheningan malam sepi
Kurangkaikan bait bait kata menyebut nama Engkau
Kususun kata kata indah bermunajat kepada Mu
Wahai Engkau yang teramat kucintai
Sesungguhnya tidaklah ada bilangan kata
Yang cukup untuk menyebut namaMu
Tidaklah cukup bilangan untuk memujiMu
Tidak ada kata yang cukup untuk kurangkai melukiskan cintaku
Cintaku yang teramat  agung hanya untukMu
Sesungguhnya dalam hidupku
Dalam bathinku hanya Engkau yang kupuja
Wahai kekasihku... 
Tidak ada sedikitpun rasa cintaku kepada selain Engkau
Meskipun hanya sebesar zarah
Rasa cinta yang tiada bandingnya
Cintaku yang tiada pernah henti
Bagi Engkau yang maha Esa
Engkau yang maha pencipta
Engkau yang maha pengatur sehalanya
Engkau yang maha pemberi
Engkau yang maha penolong
Engkau yang maha pelindung
Sesungguhnya hanya kepadaMu aku beribadah 
Sesungguhnya sesembahan kepada selain Engkau adalah bathil
Allah,kepada Engkau cintaku tiada henti. 

Loa Bakung, diselesaikan Ahad ba'da Dzuhur,13 Dzulqa'dah 1441 H/ 4 Juli 2020
By :Musni Japrie

KAMPUNG KU

KAMPUNGKU

By  : Musni Japrie

Ketika merenung sepi sendiri
Menatap kemuning senja 
Menuju datangnya gelapnya malam
Kenanganku menerawang jauh 
Menjelejah waktu tanpa batas
Kujalin dalam puisi ini
Cerita tentang kenangan indah
Kenangan indah dimasa lampau
Kenangan pada tanah kelahiran
Kenangan pada kampung halaman
Kampung dimasa kecil
Kenangan masa remaja pehuh romantika
Kenangan pada cinta pertama
Cinta yang tidak terucapkan
Cinta yang hanya tersimpan dilubuk hati

Andaikan jarum waktu diputar
Kemasa lalu 
Aku ingin ada di dalamnya
Masa yang penuh bahagia
Bersenda gurau dan tertawa
Tanpa duka di dalamnya
Aku ingin merasakannya kembali
Sekarang hanyalah khayal dalam mimpi masa lalu
Kampung halaman adalah masa lalu
Segalanya terbenam dalam pusaran jaman
Tinggallah kini jadi catatan sejarah
Menjadi kisah kisah indah
Seindah kisah kasih dua remaja
Kampung halamanku meski engkau masa lalu
Namun engkau nostalgiaku
Nostalgia yang tak lekang oleh waktu
Kampung halamanku 
Engkau yang datang dalam mimpi-mimpi indahku.

Jln.Jakarta,ba'da ashar, 16 Dzulqadah 1441H/7Juli 2020

LINDUNGI KAMI DARI CORONA


YA RABB LINDUNGI KAMI DARI CORONA

By : Musni Japrie

Ya Rabb..... 
Dimalam kelam hening 
Bulan berwajah suram
Kami anak negeri ini
Tersungkur dihamparan sajadah
Datang mengadu kepada Mu
Tentang duka dan luka menyayat hati
Duka akibat wabah corona
Menggerogoti kehidupan kami di negeri tercinta
Wabah corona pembawa bala
Tubuh kerabat dan sahabat terbujur kaku
Diatas keranda kematian di setiap pelosok negeri

Ya Rabb........ 
Di setiap sepertiga akhir malam
Di keheningan sepi yang dingin
Dalam tahajut anak negeri ini
Lisan kami bergetar menggumamkan pinta
Tangan tangan yang ringkih mengembangkan tadah doa kepada Mu
Ya Allah yang berhendak menguji dengan musibah wabah corona
Angkatlah musibah yang menimpa atas kami
Cukupkan sampai disini awan kelabu yang membungkus hati ini
Cukupkan rinai air mata menangisi kerabat dan sahabat tercinta

Ya Rabb.... 
Andaikan wabah ini ujian
Maka tunjuki agar kami lebih bertakwa
Andaikan wabah ini cobaan kuatkan ketabahan dan kesabaran diri kami
Andaikan wabah ini peringatan bagi kami
Maka tunjuki kami ke jalan kami
Andaikan wabah ini hukuman maka ampunilah kami
Terimalah taubat kami
Sesungguhnya Engkau maha penerima taubat
Sesungguhnya Enkau maha pengampun

Ya Rabb.... 
Sesungguhnya hidup dan mati kami hanya karena Engkau
Hanya kepada Mu kami berserah diri
Hanya kepada Mu kami segenap anak negeri ini meminta pertolongan
Hanya kepada Engkau kami anak negeri ini
meminta perlindungan
Engkau yang maha berkehendak mendatangkan musibah ini
Engkau pula yang maha berkehendak menghentikan musibah ini
Ya Raab...  tolonglah kami para anak negeri ini
Sesungguhnya kami seluruh anak negeri
Adalah hamba yang dhaif tak berdaya
La Haula wala kuata illa billah

Tepian Mahakam, menjelang dhuhur, 
Rabu, 28 Muharam 1442 H / 16 September 2020 M

MUSIBAH CORONA

MUSIBAH CORONA 

Detik demi detik waktu merayapi perjalanan panjang menemani hari-hari 
Dalam menghayati kehidupan kami
Selaku hambamu yang diliputi resah dan gelisah
serta ketakutan yang tiada tara
Ketakutan dari sesuatu yang ghaib
Virus corona yang  diam diam 
Menulari banyak insan
Virus corona yang diam diam
Menyebar maut mematikan

Kami hamba yang dhaif
Ketakutan dari kejangkitan virus
Virus yang merenggut mereka mereka 
Para kerabat dan sahabat yang kami kasihi
Ketakutan yang menyebabkan kami
Lari meringkuk menjauh dari kerumunan
Menjauh dari wabah sebagaimana yang diajarkan junjungan kami nabi Muhammad

Duhai yang Maha benar firmannya
Sebagai kaum yang beriman
Kami meyakini ketakutan umat sekarang ini
Adalah bagian dari ujian yang Engkau berikan kepada kami
Sebagaimana Engkau firmankan dalam kitabMu
Surah al Baqarah ayat 155
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,

Duhai Zat yang Maha Benar dengan firman Nya
Atas ujian yang Engkau berikan  
Masukkanlah kami kedalam golongan mereka yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Mu, dan mereka  orang-orang yang mendapat petunjuk
Sebagaimana Engkau sebutkan dalam firman Mu di surah al Baqarah 157

Ya Allah yang memberikan musibah
Dengan segala pengharapan kami memohon
Selamatkanlah kami dari wabah ini
Kami memohon agar musibah ini segera berakhir
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal barashi, wal junūni, wal judzāmi, wa sayyi’il asqāmi.
Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.”

Loa bakung, Sabtu ba'da dhuhur
24 Muharam 1442 H/12 September 2020 M

By : Musni Japrie

WABAH CORONA


 WABAH CORONA

By :Musni Japrie

Puisi untuk seluruh kerabat dan sahabat yang kehilangan orang-orang yang dicintai
karena covid-19

C o r o n a 

Namamu mirip dengan nama seorang gadis
Gadis cantik yang memikat hati
Gadis yang memiliki mata bulat yang berkilau 
Auramu memikat pria yang mengidam idamkanmu
Banyak pria yang ingin menghirup madu manis dibibirmu yang memikat
Engkau jadi dambaan para pria 
Banyak lelaki yang memimpikanmu

C o r o n a 

Tapi sungguh disayangkan
Engkau bukanlah corona nama indah seorang gadis
Engkau adalah pademi yang ditakuti
Ketika engkau datang 
Semua berlari menjauh darimu
Sesungguhnya engkau bukanlah seperti gadis yang ditunggu kedatangannya
Kedatanganmu sangat tidak diharapkan
Engkau telah mengharu birukan seluruh jagat
Engkau datang menyebar maut


C o r o n a

Engkau tidak seindah dan seelok namamu
Engkau telah merubah langit 
biru menjadi hitam kelabu
Menjadikan malam semakin kelam
Menjadikan banyak mata bersimbah air mata
Menjadikan luka pedih bagai tersayat sembilu
Engkau telah merengggut paksa para kerabat dan sahabat
Engkau adalah pandemi telah menghapus semua kegembiraan

C o r o n a

Corona engkau bukan nama gadis idaman
Corona engkau nama pademi yang menggerogoti dan merobek kedamaian
Corona yang menyebarkan benih benih kematian
Pademi yang membuat tersentak seluruh jagat
Dunia berduka karena corona
Dunia terluka karena pademi
Sirnalah  senyum simpul
Tidak ada lagi saling rangkul
Semua jaga jarak
Agar corona berhenti menyebar

Loa Bakung, Ahad ba'da Ashar
18 Muharam 1442 H /
6 September 2020


,

HATI YANG RAPUH

HATI YANG RAPUH

By :  Musni Japrie

Disuatu senja yang temaram
Berdiri terpaku di bibir tebing pantai terjal
Gelombang bergulung tinggi berkejaran
Bergelegar mehempas karang yang tegak menghadang
Bergetar hati menyaksikan betapa tangguhnya karang bergeming diterpa gelombang tiada henti

Kenapa hati ini tidak setangguh karang
Terpanggang panas terik sepanjang hari
Dibalut angin malam  dingin bertiup kencang
Namun karang tegak menantang
Tak pernar hirau atas angin dan badai yang
tiada henti menghempasnya

Kenapa hati ini terlalu rapuh
Menanggung rindu tidak berujung
Rindu dengan bayang yang kian memudar
Rindu yang terpuaskan dalam mimpi
Merindukan yang telah pergi
Rindu yang dicetuskan dalam setiap doa
Berharap agar diberikan kelapangan di negeri sana.

Mengenang 10 purnama kepergian dia yang tercinta. 
 
Perum Korpri Loa Bakung, menjelang dzuhur, Ahad, 18 Muharam 1442 H /
6 September 2020.

I WILL NEVER FORGET YOU DEAR


I WILL NEVER FORGET  YOU DEAR

By  : Musni Japrie

Masih hangat dalam ingatanku
Di awal Desember yang kelabu
Engkau pergi dari sisiku
Berjalan jauh kenegeri abadi
Tinggallah sendiri berteman sepi
Terseok dalam pelukan nestafa
Sepi sendiri bagian rentetan cerita  
Dari suratan takdir yang dilalui
Biarlah diri ini menanggung pilu
Biarlah diri ini merasakan pedihnya hati
Pedih bagaikan tersayat sembilu

Kucoba untul memetik dawai mengiringi desah lagu yang sumbang
Namun hembusan angin melarutkan hayal
Aku coba untuk menghirup wangi segarnya pagi
Tetapi matahari telah menguapkan embun pagi keangkasa raya
Direlung pualam hati yang dulu aku pahatkan cintamu
Tidak pernah pupus dan tetap bertahta
Meski aku telah kehilangan sosokmu
Namun kenangan bersamamu senantiasa menemaniku sepanjang hari
Di kala pagi matahari merekah seakan engkau ada disisiku 
Di saat matahari bersinar aku seakan menatap sinar mata indahmu
Ketika langit jingga menjemput senja 
aku merasakan aura kehadiran
Meski di malam-malam dingin aku tdk lagi memelukmu
Tetapi kenangan manis menggairahkan mimpi mimpiku bersamamu
Karenanya aku tidak akan pernah melupakanmu
I will never forget you dear

Jln. Jakarta blok bb 12, ba'da dzuhur 
14 Muharam 1442 H/ 2 September 2020.

NEGERIKU DALAM DUKA

NEGERIKU DALAM DUKA

by :Musni Japrie

Kabut awan kelabu memagut negeri ini
Di mana mana sejak sekian lama 
Langit hitam menguras air mata
Kicau burung di pagi hari terdengar sumbang tidak lagi merdu
Setiap anak negeri berduka
Tidak nampak lagi sesungging senjum ketika berpapasan
Tidak ada lagi saling jabat tangan ketika     
 berjumpa
Kini setiap org saling acuh
Setiap orang jaga jarak
Seakan tidak lagi mengenal sahabat dan kerabat
Asing satu dengan yang lainnya
Semua orang takut saling bersentuhan
Negeri kita sekarang dalam duka
Berduka karena banyak anak negeri ini yang sahid
Sahid oleh pademi yang ghaib

Sekarang negeri kita sedang berduka
Berduka karena ribuan diantara kita yang diantara kepemakaman 
Berderai air mata dan pilu di hati
Melepas orang yang dikasihi, kerabat dan dan sahabat yang pergi
 Keranda jenazah tanpa iringan sanak saudara dan handai taulan

Awan hitam yang memagut negeri  ini
Bagai mengggantung dilangit 
Pandemi dalam kesunyiannya mencari
sasaran korban tiada henti
Menciutkan nyali
Berlari dan bersembunyilah darinya
Lari menjauh sebagaimana  takut kepada binatang berbisa

Negeri kita sedang berduka
Gerimis hati setiap anak negeri ini 
Menangisi negeri yang babak belur
Dilanda pademi yang tidak henti
Negeri ini terpuruk dalam ketidak mampuan
Mungkin Allah sang Maha Kuasa
Memberikan cobaan tanpa disadari hikmah yang terkandung di dalamnya

Kapan tragedi pandemi di negeri ini akan berhenti
Kapan awan hitam kelabu yang menjelaga di hati tersingkap
Kapan anak anak kita kembali berlari ceria 
Wallaahu ta'ala 'alam

Perum Korpri Loa Bakung
Ba'da ashar, 13 Muharam 1442 H
                        1 September 2020

HANYA FATAMORGANA

HANYA FATAMORGANA
30-08-2020
HANYA FATAMORGANA

By :Musni Japrie

Bulan yang temaram menggantung di langit kelam
Bagaikan lentera memberi seberkas cahaya suram
Angin menelisik dedaunan 
Bergegas tanpa peduli berlari
Mengejar mentari yang tersembul di ufuk
Menggapai tetesan embun pagi
Menghapus dahaga berkepanjangan
Mengejar hasrat rindu diujung negeri tidak bertepi
Berlari dipadang savana kering tandus
Mengejar kolam oase yang menyejukkan
Berhayal mereguk setetes harapan
Berhayal menyesap wewangian bunga liar
Berharap terlepasnya rindu yang tertahan
Berhayal untuk melepas rasa sepi
Namun semuanya hanyalah mimpi belaka
Yang ada di bukit cinta penuh harapan Hanyalah rumput kering kerontang
Semua ternyata hanya fatamorgana.

loa Bakung,  Ahad pagi, 11 Muharram 1442 H /
30 Agustus 2020M

I MISS YOU

I MISS YOU

Puisi mengenang kepergian seseorang

By : Musni Japrie

Mentari menghapus malam
Rembang Petang menjemput malam
Waktu menguntai hari kehari menjadi pekan
Hari kemarin seperti baru sedetik berlalu
Tidak terasa beberapa purnama telah berlalu
Waktu telah jauh melesat
Sembilan purnama sudah dia pergi
Berlayar jauh ke ujung yang tdk tergapai
Tinggalah aku sendiri di terpa angin sepi
Tiada kata pesan perpisahan
Aroma duka masih menggantung di hati
Rasa pilu ditinggal pergi menyayat hati
Kecuali sesungging senyum disudut bibirnya
Kulepas kepergiannya membawa pergi cinta
Tiada gerimis air mata 
Hanya rinai di hati yang tidak kunjung henti
Yang ada hanyalah kenangan kami berdua
Menapaki bukit berbungakan cinta

Sembilan purnama sudah
Aku hanya sendiri menyapa pagi
Hanya sendiri menatap senja
Malam yang dipenuhi mimpi
Sepi dalam hiruk pikuk keramaian
Menciumi jejak-jejak wangi cintanya yang
tertinggqal
Nama indahnya terpahat di batu nisan
Cintanya yang abadi terpateri di pualam kalbu

Sembilan purnama sudah
Tidaklah pernah lekang di sanubari
Disetiap sudut ingatan
Membayang senyum indahnya yang menawan
Disetiap mimpiku selalu 
Meski gerimis hujan telah lama usai
Tapi rinai di hati tiada henti
Aku telah kehilangannya
Dia telah pergi kebalik tirai malam
Memenuhi janjinya di alam keabadian

Loa Bakung, 9 Muharram 1442.H /
27 Agustus 2020.

I CAN'T STOP LOVING YOU


Malam ini kupandangi langit berbintang
Mecari bayang wajahmu
Diantara ribuan bintang
Malam ini kudatangi ruang lamunan
Mencari sosok indahmu
Duhai gerangan
Entah mengapa wajahmu seakan terus melekat dalam jiwaku
Senyum manismu selalu terbayang dalam ingatan
Rembulanku
Malam  mungkin berlalu 
Tapi aku disini masih ada untukmu
Meski engkau telah larut bersama malam
Ragamu jauh tak terpeluk
Namun ruh cintamu masih menghangat dalam jiwaku
Meski ragamu hanya bayangan dalam benakku
Namun cintaku seakan selalu mencumbumu
Hari-hari mesra kemarin bersamamu  Kembali berulang dalam mimpi-mimpi yang tidak henti
Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu
I can't stop loving you

Jln. Jakarta ,Ahad pagi, 25 Oktober 2020
By : Musni Japrie

NEGERI YANG TERLUKA


NEGERIKU YANG TERCEKAM LUKA

Puisi untuk seluruh sahabat  anak negeri yang terluka oleh covid 19

Embun pagi yang bertabur di dedaunan
Disiram mentari tidak lagi terlihat sebagai butir butir mutiara yang bercahaya
Kicau burung setiap pagi sekarang terdengar bersenandung pilu
Mereka sepertinya tidak  lagi bernyanyi gembira
Bunga-bunga pun nampak bagaikan lesu 
Tidak lagi indah dan harum semerbak
Tiada lagi lo kupu-kupu bersayap indah bergayut di bibir mahkota bunga
Mentari dibalut awan hitam kelabu
Biru langit juardi tersapu awan kemukus
Hamparan rumput di savana yang nampak 
Kehilangan gairah bagaikan kering kerontang
terbakar kemarau
Alam negeri ini bagaikan muram dicekam duka
Alam negeri ini turut merasa pilu 
Atas derita kami para  anak negeri ini

Negeriku............
Sepuluh purnama kami menangis dalam duka
Menanggung derita berkepanjangan tiada henti
Tiada daya terkungkung dalam musibah
Kami tidak mampu melangkah lari karena terjerat
Tak terbilang berapa sudah yang syahid
Tersengat  wabah corona
Corona ganas melibas negeri ini  tiada ampun
Menyesap ke setiap   tubuh tanpa terasa
Pasukan corona secara senyap malang melintang
Tanpa ada yang menghalanginya 
Corona engkau datang lalu pergi tanpa jejak
Tinggallah sanak kerabat terhenyak derita
Rinai airmata tanpa lagi sedu sedan
Menatap nanar dari jauh jenazah tenggelam di perut bumi
Di pemakaman bertebaran korban corona

 Meski kami perkasa tetapi sesungguhnya tidak berdaya
Kami orang-orang tangguh namun rapuh
Kami sepertinya sebagai orang terkuat namun ternyata lemah
Kami l anak negeri ini tiada daya
Kami lari menjauh bagi  lari dari singa
Menjauh dari kerumunan 
Menjaga jarak agar tidak terpapar 
Berjaga selamatkan diri dari corona
Kini seluruh anak negeri ini luruh dalam pasrah
Berserah diri kepada Khalik sang penguasa segalanya
Menunggu turunnya pertolongan dari Nya
Menunggu diangkatnya luka anak negeri
Luka oleh pademi corona
Kami hanya bertawakkal kepada Nya
Kami hamba yang dhaif tiada daya
Berharap penuh turunnya pertolongan dari Engkau
Ya Rabb kami maha penolong
Tolong lindungi dan selamatkan kami.
La haula wa la kuata illa  billaahi

Jln.Jakarta, menjelang dzuhur 5 Rabiul Awal 1442 H / 22 Oktober 2020 M
by :  Musni Japrie















Kamis, 22 Oktober 2020

TOLONG KAMI YA RABB

TOLONG KAMI YA RABB

Puisi untuk yang terpuruk 

Ya Rabb kami.....

Engkau  maha tahu 
Di bumi Mu ini 
Kami sedang dirundung awan kelabu
Membalut hari-ko ketakutan
Ketakutan yang menghantui setiap anak negeri
Virus corona bagai  hantu penyebar kematian dalam dongeng
Tiada hari tanpa tetesan air mata
kerabat korban corona

Ya Rabb kami..... 

Engkaulah yang telah menggariskan
Liku-liku yang mesti ditapaki setiap anak manusia
Engkaulah Rabb kami yang menjadikan
Corona sebagai wabah 
Wabah yang memaparkan korban  berjatuhan
Engkau jadikan pademi corona musibah
bagi anak manusia di bumi Mu ini
Bencana musibah untuk cobaan
Bagi kaum yang  beriman
Bencana musibah sebahai ujian untuk meningkatkan keimanan 
Bencana sebagai hukuman untuk yang melamlaui batas

Ya Rabb kami...... 

Dengan seluruh kerendahan yang dimiliki makhluk yang dhaif
Dengan penuh asa kami bersujud
Menadahkan pinta penuh harap
Bermohon dengan  berjuta harap
Kiranya Engkau  berkenan mendengar pinta kami 
Berilah kami pertolongan agar musibah ini tidak semakin meluas
Lindungi kami ya Rabb agar tidak terpapar
Selamatkan kami ya Rabb agar tidak jadi korban corona
Tolong angkatlah musibah bencana wabah corona yang melanda bumi ini wahai Rabb 
Bersihkan dan hilangkanlah wabah corona dari bumi ini
Karena sesungguhnya hanya Engkau yang kuasa melakukan segalanya

Wahai Rabb kami....... 

Sekiranya musibah wabah corona yang menimpa 
Akibat ulah kekeliruan
Akibat tingkah polah 
Akibat dosa dan maksiat 
Akibat kelalaian
Akibat  terlalu berlebihan 
Akibat abainya kami dari Engkau
Yang semunya menimbulkan marah Mu
 Maka sebagai Hamba Mu yang dhaif
Kami datang  bersujud mohon maaf dari Mu
Kami datang dengan jutaan mohon ampunan Mu
Kami memohon untuk dihapuskan segala kesalahan
Dihapuskan dosa-dosa kami yang menggunung
Karena kami tahu bahwa sesungguhnya 
Hanya Engkau Rabb yang dapat memaafkan kami
Hanya Engkau Rabb yang dapat menghapus segala kesalahan kami
Hanya Engkaulah yang dapat memberikan ampunan
Karenanya maafkan kami, hapuskan kesalahan kami, ampuni dosa kami
Sesungguhnya Engkau maha mengabulkan segala pinta dan hajat 
Kabulkan lah hajat dan pinta kami

Perum Korpri loa Bakung
Diselesaikan Jum'at pagi, 6 Rabiual Awal 1442 H / 23 Oktober 2020
by : Musni Japrie



Senin, 19 Oktober 2020

SETENGAH ABAD DALAM CINTA

SETENGAH ABAD DALAM CINTA

Puisi cinta untuk bidadariku
01/01/2020
Puisi mengenang 50 th perkawinan emas

Andaikan waktu bisa diatur ulang
Kembali kecerita lampau
Aku ingin kan kilas balik
Membuka helai demi helai 
lukisan percintaan 
Kisah awal dan perjalanan panjang 
Tentang cinta kita berdua
Aku dan engkau dalam belantara kehidupan
Setengah abad yang lampau
Diikrarkan janji setia dan sehati
Janji saling bersama dalam suka duka
Sebiduk berdua mengarungi samudera cinta
Tabah dihempas badai dan gelombang
Dalam romantikanya dunia

Bermodalkan cinta yang terpateri di hati
Bermodalkan kepercayaan dan pengertian
Kita tapaki bersama titian hidup
Kita jalani perjalanan panjang setapak demi setapak
Kita daki bebukitan indah berbunga 
Kita turuni hamparan lembah hijau semerbak mewangi 
Bergandengan tangan menyanyikan
tembang cinta kehidupan

Setengah abad kita berlayar nlsebiduk
Bahtera melaju ditiup angin buritan
Tiada badai dan tiada batu karang 
Mentari pagi dan kicauan burung
Bentangan pelangi dilangit sore
Kemuning senja menjemput malam
Germerlap bintang dilangit tinggi
Rembulan tak henti menghias malam
Semuanya indah seindah perjalanan hidup kita berdua
Sungguh sang Pencipta telah melimpahkan segalanya
Tidak pernah ada tangisan duka
Kecuali tangis bahagia
Tidak ada nada sumbang
Kecuali kata mengandung kemesraan

Meski waktu bergulir menyongsong petang
Senja temaram sebentar lagi pudar
Tidak pernah henti membangun mahligai bahagia
Berujung pada terhentinya tarikan nafas dan detak jantung terakhir

Samarinda, 23 Nopember 2019
By : Musni Japrie


DUHAI DIRI

DUHAI DIRi

by : Musni Japrie

Duhai diri.......

Kau pongah bagaikan peragawan
Berjalan diatas panggung dunia
Menjual ketampanan dengan kesombongan
Kau balut tubuhmu dengan keangkuhan
Menyunggingkan senyum kebanggaan
Seringaimu membuat tangis pemujamu
Engkau gelorakan nafsu mudamu
Menyanyikan syair cinta dunia
Gelak tawa dalam gemerlap hidup
Gelamor nikmat semu membuat lalai diri 

Duhai diri.......l

Semua sekarang usailah sudah
Cerita telah hampir diujung
Panggung sandiwara telah padam
Tirai ceritamu sudah kadulawarsa
Selesailah sudah masa mudamu
Gelamor gemerlap kemegahan telah padam
Bercerminlah engkau
Aura wajahmu tergores kerutan garis ketuaan
Sirnalah sudah tampan kesombongan
Kakimu yang ringkuh tak lagi mendukung keangkuhan
Senyummu  lagi indah tidak lagi menggelegar
Hanya bibirmu yang bergetar
Pandangan matamu meredup
Sayu meminta belas kasih
Jiwamu merintihkan derita

Duhai diri........

Tetes embun pagi sirna
Matahari naik merangkak
Lalu menurun
Langit biru juardi meluntur
Langit petang merah jingga
Sang siang meredup
Senja segera menjelang
Malam memeluk hamparan bumi dalam gelap
Itulah gambaran hidup anak manusia
Semua akan sirna di keabadian
Rontok bagaikan daun kerontang
Rontok bertaburan tertelan bumi

Duhai diri .........

Sudah siapkah dirimu untuk perjalanan
panjang tiada ujung
Sudah siapkah rumah masa depanmu?
Sudahkah terbangun istana impianmu?
Bertanyalah pada dirimu mau kemanakah ?
Apa yang engkau pilih ?
Bahagia berkekakankah?
Atau engkau sudah bersiap dengan siksa
Bersiap dalam sengsara tiada berkesudahan
Kasihanilah dirimu
Menangislah sekarang sebelum engkau tak sanggup lagi menangis
Karena keperihan tak tertanggung

Duhai diri......

Masa mudamu telah usai
Tubuhmu telah ringkih
Bercermin dirilah
Sesalilah gemerlap dunia lalumu
Tangisi dengan penyesalan
Isilah hidup yang tersisa dng kembali kepada keta'atan
Hijrahlah kejalan Nya
Menjauhlah dari pelukan nafsu liarmu
Nafsu yang meluncurkan keliang neraka
Ikuti bisikan nuranimu kejalan Nya
Jadilah engkau sebaik baik orang
Yang panjang umurnya baik amalannya.

Menjelang Isya di Ujung Kota Tepian,
2 Rabiul Awal 1442 / 18 Desember 2020
Bbbbb




 


        9


SELAMAT JALAN CINTAKU

SELAMAT JALAN CINTAKU
02/01/2020
Selamat Jalan Cintaku
By : Musni Japrie 

Rembang petang menjemput senja 
B ayang-bayang terhapus sudah 
Selendang pelangi dikaki langit melepas petang 
Rerumputan di padang hijau berkerudung malam 

Tirai panggung telah diturunkan 
Usailah sudah cerita panjang perjalanan cinta kita berdua
Dentangan tangga nada melengking tinggi memutuskan dawai cinta 
Pupuslah symponi rindu kita

Engkau telah pergi jauh dariku
Jauh takkan terjangkau
Pergi kebalik malam tiada ujung
Kau pergi membawa cintaku 
Meninggalkan duka dan pilu 
Meski engkau tidak lagi disisiku
Namun desah nafas dan senyum dibibirmu
Tak akan lepas dari ingatanku
Selamat jalan bidadariku
Wajah dan cintamu abadi di hatiku

Di ujung kota, ba'da Isya di awal Januari 2020

By : Musni Japrie